Different
(Karya : Marta Sulistia)
Sinopsis
Entah
apa yang aku pikirkan, semuanya terhembas oleh ombak di kala senja
itu,.menjadih buih – buih yang tenggelam di daqlam lautan. Mahardika Pratama,
berhasil membuatku jatuh hati. Semua masalah datang tanpa diundang. Akankah aku
dapat bersatu kembali dengan keluargaku? Atau semuanya hanya ilusi belaka?
Tanpa bantuan-MU aku mungkin tak dapat menginjakan kakiku di negeri orang,
negeri empat musim.
Bagian 1
Tegar
Aku ini seperti Aisyah yang diam –
diam mencintai Ali. Lantas sekarang aku sedang merasakan bagaimana sakitnya
mencintai dalam diam.
Senja di ufuk barat semakin pudar
jingganya. Aku masih duduk dengan secangkir kopi di teras rumah yang langsung
menghadap pantai. Angin semilir menerpa jilbabku, aku begitu menikmati senja
hari ini. Aku EdelweissMaryam. Biasa dipanggil Maryam, gadis 18 tahun yang
sedang berjuang menitih ilmu di Sekolah Menengah Atas di kotaku. Aku cukup
pandai karena berhasil masuk jurusan IPA yang notabnenenya banyak anak – anak
pandai. Aku memiliki tinggi badan yang cukup proporsional yaitu 170 cm,
memiliki kulit kuning langsat, dan karena aku keturunan Chinese mataku juga
terkena cipratannya jadi sipit deh. Sejak kecil aku sudah memakai hijab, karena
mamaku sangat kuat dalam mendidik anaknya tentang ilmu agama.
Walaupun, aku anak IPA. Tetapi, aku
lebih menyukai ilmu sastra. Menurutku, sastra itu indah mampu mengembangkan
kreativitas serta mampu mengembangkan imajinasi kita untuk menyusun sederet
kata – kata indah penuh makna. Dari kecil aku sudah akrab dengan buku cerita,
dan dongeng.
“Maryam ayo masuk, sebentar lagi
adzan maghrib berkumandang.” Ucap mama dari balik pintu utama.
“Iya ma, sebentar lagi aku masuk. Ini
lagi beresin buku nih habis belajar.” Jawabku dengan lembut.
Mama, pun melangkah ke dalam.
Rupanya, sedang mengambil air wudhu. Aku terlahir dari keluarga yang mempunyai
perbedaan terutama dalam hal “agama”, papaku terlahir dari keluarga Konghucu
dan mama asli seorang Muslimah. Kehidupan yang aku jalani sekarang memang indah
tetapi, tidak dengan masa laluku. Maryam kecil, sangat haus akan kasih sayang
seorang ayah. Sangat puas dengan cacian dan makian dari keluarga papa.
Adzan pun berkumandang merdu,
tandanya Sang Maha Pencipta sedang memanggil seluruh makhluknya untuk memohon
dan memuja-Nya. Islam merupakan agama yang menurutku sangatlah sempurna.
Mengajarkan arti toleransi, kasih sayang, kedisiplinan, dan masih banyak
lainnya. Aku sangat bersyukur bisa mempertahankan diriku sebagai seorang
muslimah.
Aku dan mama pergi menuju surau tua
di pantai ini. Langkah demi langkah kulalui dengan canda gurau bersama mama.
“Jadi wanita itu harus kuat. Jangan
mudah menangis karena patah hati…” mama tiba tiba berkata seperti itu.
“Ihh.. Mama apaan sih,Maryam aja
nggak suka kok sama Dika. Lagian pacaran kan nggak boleh dalam islam.” Sahutku
dengan tawa ringan.
Mama pun mencubit pipiku, lalu
kembali melanjutkan perjalanan ke surau.
❤❤❤❤
“Kriing!!! Kriing!!!” jam weker ku
berbunyi dengan nyaringnya.
Jam menunjukkan pukul 03.00 dini
hari. Waktunya aku berkeluh kesah dengan Maha Pencipta.
Papa memang jarang pulang akhir –
akhir ini. Mungkin proyek luar kota yang semakin hari semakin menggunung.
Setelah meluangkan beberapa menit untuk meluapkan semuanya kepada Allah, aku
mengambil buku pelajaran untuk ku baca lagi. Memang, fisika bukan mata
pelajaran yang aku sukai. Penuh rumus, teori dan masih banyak lagi hal yang
berhasil membuatku merasah jenuh dengan mata pelajaran yang satu ini.
Setengah jam berlalu, lumayan bisa
tidur lagi.
Dika, Mahardika Pratama. Teman
sekelasku, berparas gagah, mempunyai mata sipit, berkulit sawo matang,
mempunyai senyum manis dan rahang yang tegas, serta suara beratnya yang khas
jika didengar. Sudah lama aku menaruh hati padanya. Namun, aku sadar aku hanya
mengagumi dia dan tidak lebih dari cukup untuk menjadi seorang teman. Jangan mencintai makhlukNya lebih dari kamu
mencintai Tuhannya (Allah S.W.T) kata – kata itu selalu aku ingat saat mama
menasehati aku ketika aku sadar bahwa Dika dekat dengan Shasha.
Hari ini giliranku kebagian jemputan
pertama dari bus sekolah, jadi jam 5 aku harus sudah stand by di depan rumah.
Pak Made dan Kak Hani selalu setia mendampingi anak – anak Chiefly Senior High
School
Lampu jalanan masih terang. Pak Made
pun tiba, aku langsung memasuki bus. Dan hening sekali suasana bus ini. Hanya
aku dan Kak Hani yang asik mengobrol walau hanya sebentar karena di depan sana
ada pria yang mukanya tak asing bagiku. Ya, dia Arrahman biasa dipanggil
Rahman. Sahabat karib Dika, yang selalu setia menemani kemanapun dia pergi.
Rahman menatapku dengan tatapan dingin, rupanya dia masih kepikiran dengan
masalah kemarin ketika Dika menolongku dari kecelakaan mobil yang dikendarai
oleh Anin.
“Lo, nggak apa - apa Mar?” tanya
Rahman dengan nada datar.
“Hmm ya nggak apa – apa sih Man.
Orang luka sedikit doang kok di pelipis kanan aku.” Timpalku dengan nada datar
pula.
Suasana semakin canggung. Sampai
akhirnya Pak Made menjemput Dika
Hari ini dia memakai sweater navy
dari mantan kekasihnya Celine. Masya Allah, sungguh indah makhlukMu, aku masih
bergumam dalam hati. Wangi parfumnya yang khas memenuhi ruangan bus. Aku
memilih duduk dekat jendela ke tiga dari kursi belakang. Tiba – tiba Dika duduk
di belakang kursiku, aku mencoba bersikap tidak gugup. Dia kembali membuka buku
fisika, nampaknya dia sedang mengerjakan PR dari bu Nisya.
Akhirnya, sampai juga di sekolah. Aku
berjalan menyusuri koridor panjang yang penuh dengan loker – loker murid di
sekolah ini.
“831, hmm mana yaa buku aku. Perasaan
kemarin aku taruh di loker deh.” Aku bergumam sendiri.
Tiba – tiba Ainun mengagetkanku dari
belakang.
“Hay Maryam, kamu cari buku ini ya?”
Ainun menyodorkan buku biologi milikku.
“Iya Nun, kamu dapat dari mana Nun?
Kan kemarin aku taruh di loker.” Ujarku dengan raut wajah bingung.
Aku pun mengambil bukuku dan sepucuk
surat dengan sampul ungu jatuh. Di situ tidak tertulis pengirimnya.
“Ciee dapet surat dari siapa tuh?
Pangeran kodok ya?” Ainun tertawa terbahak – bahak.
“Yey sembarangan aja, diem – diem
gini juga aku punya pengagum rahasia kali Nun.” Aku menimpali perkataan Ainun
tadi.
Mana lagi sungai yang harus ku arungi
Aku lelah dengan penantian jenuhku
Rasa ini semakin membabi buta palung
hatiku
Yakin tak ingin melihatmu layu dalam
sendu
Aku kan slalu ada walau waktu begitu
membenciku
Menemanimu dari jauh
Your Prince,
Sepucuk surat dan isinya adalah
puisi. Bel masuk pun berbunyi, aku dan Ainun menyiapkan selembar kertas untuk
mengerjakan soal ulangan harian fisika. Bu Nisya berkeliling dan menatap tajam
setiap siswa jika ada gerakan – gerakan mencurigakan. Dua jam pelajaran telah
berlalu, aku pikir dua jam ini adalah uji nyali selama sepuluh jam.
“Lembar jawaban kalian tinggal, soal
kalian bawa ke depan dan tinggalkan ruangan!.” Ujar bu Nisya dengan nada
tinggi.
“Dika, Rahman, dan Axel. Kalian
sedang apa? Mencontek?” bu Nisya menegur Dika dan gengnya karena ulah
cerobohnya yang konyol itu.
“Nggak kok bu saya cuma mau ambil
pulpen di bawah meja.” Jawab Dika dengan gelagepan.
“Kebanyakan alasan kalian ini! Cepat
ikut ibu, ibu hukum kalian di depan kelas.”
Aku dan Ainun hanya bisa terkekeh
kecil sambil memandang wajah Dika yang kecapean menahan tubuhnya dengan satu
kaki. Aku dan Ainun pergi menuju kantin, untuk membeli semangkuk bakso dan es
teh manis. Aku lewat di depan Dika, dan dia tersenyum padaku. Aku hanya bisa
membalas dengan senyum tersipu malu. Aku tidak tahu seberapa meronanya pipiku
ini.
Meja nomor 56, aku dan Ainun
menyantap bakso dengan lahap. Ainun rupanya sedang mencari seseorang. Matanya
berjalan kesana kemari.
“Kamu cari siapa Nun? Serius amat
sih?”
“Lagi cari Denia, Mar. Dia pinjam
buku kimia ku, katanya sih mau dikembaliin pas di kantin. Tapi tuh bocah nggak
nongol batang hidungnya.” Cerocos Ainun sambil mengunyah bola daging itu.
Aku memutuskan kembali ke kelas
sendirian. Dengan membawa sebotol air mineral, aku melihat Dika masih berdiri
dengan satu kaki. Dalam hatiku aku merasa kasihan, tetapi lucu juga ulahnya.
Aku menyodorkan botol minum itu.
“Nih minum! Kamu pasti haus kan?”
tanyaku dengan ramah.
“Wah thanks, by the way kamu perhatian banget.” Ujar Dika dengan senyum
manisnya.
“Untung aja aku beliin, udah jangan
banyak tanya. Tinggal diminum aja. Bentar lagi juga hukuman kamu selelsai kok.
Makanya jangan nyontek lagi dong, malu sama Malaikat Rakib dan Atid yang stand
by terus nulis amalan kamu.” Aku bicara panjang lebar dengan logat bahasa jawa
yang medok.
Dika hanya tersenyum mendengar
penjelasanku yang panjang lebar itu, dan dia berkata.
“Walau aku bejat kaya gini Mar, tapi
aku tahu aku hanya manusia kecil yang nggak ada apa – apanya di mata Allah.
Kamu tenang aja, aku bisa memperbaiki diriku.”
Aku terdiam, aku merasa salah dengan
ucapanku yang menyinggung Dika. Tanpa mennggu apapun aku meminta maaf pada
Dika. Memang benar adanya, bahwa lidah itu tak bertulang maka berhati – hatilah
dengan apa yang kamu ucapkan.
❤❤❤❤
“Woy ngapain lo? Jangan berani
njambret ibu – ibu doang lo!!!” ucap Dika.
Suara itu terdengar hingga depan
gerbang. Kerumuman anak – anak SMA pun semakin menjadi, rupanya Dika sedang
berkelahi dengan preman sok keren itu.
“Eh bocah tengik, bau kencur. Lo
berani nantang gue? Sini maju lo!” hardik preman itu dengan wajah merah padam.
Baku pukul pun terjadi, warga yang
melihat tak berani ikut campur urusan mereka berdua. Aku melihat Dika terluka
di daerah pelipis nya dan sudut bibirnya membiru. Namun, perjuangannya
membuahkan hasil yang manis. Akhirnya, tas ibu itu terselamatkan.
“Dika!!! Kamu nggak papa kan?” aku
bertanya dengan raut wajah panik. Dan jujur saja kakiku masih bergetar.
“Nggak papa kok Mar, gue Cuma luka
dikit doang.” Ujar Dika meyakinkan aku.
“A kamu jangan gitu Dik, nanti Maryam
sama aku yang antar kamu ke UKS deh. By the way soulmate kamu gak nongol?”
timpal Ainun
“Rahman? Dia lagi jalan sama ceweknya
ke Amor Café deket perempatan Anggrek.” Dika menjawab pertanyaan Ainun sambil
merintih menahan luka lebamnya.
Aku, Ainun, dan Dika akhirnya pergi
ke UKS sekolah. Aku masih mencari obat merah, dan alat P3K yang lain, sedangkan
Dika masih terbaring lemas di bangsal. Aku diam – diam memerhatikan gerakkan
mata Dika yang diam – diam rupanya dia suka curi – curi pandang terhadapku.
Aku bersihkan luka itu dengan alkohol
. Perlahan aku menuangkan obat metah ke kapas, lalu aku mencoba mengobati luka
Dika yang rupanya semakin membiru dan mengeluarkan darah.
“Auhhh sakit Mar, pelan – pelan
dong!” Rintih Dika, tangannya refleks memegang luka yang membiru itu.
“Ini udah paling pelan Dikaaa! Udah
kamu diam aja, nanti juga sembuh kok.” Ujarku sambil mengobati lukanya.
Tiba – tiba Shasha muncul dari balik
pintu UKS dengan mata liarnya mencari Dika. Dia memasuki ruangan dan memanggil
namaku dengan nada tinggi. Aku tak habis pikir kenapa Dika masih bertahan
dengan cewek seegois, segalak, dan segenit dia. Aku tahu, walau aku jauh dari
kata sempurna namun, aku tulus dan tegar untuk selalu menunggumu,Dik.

EmoticonEmoticon