Sabtu, 23 Maret 2019

Cerita Islami - Different - Bagian 1 Tegar

Different
(Karya : Marta Sulistia)

Cerita Islami


Sinopsis
Entah apa yang aku pikirkan, semuanya terhembas oleh ombak di kala senja itu,.menjadih buih – buih yang tenggelam di daqlam lautan. Mahardika Pratama, berhasil membuatku jatuh hati. Semua masalah datang tanpa diundang. Akankah aku dapat bersatu kembali dengan keluargaku? Atau semuanya hanya ilusi belaka? Tanpa bantuan-MU aku mungkin tak dapat menginjakan kakiku di negeri orang, negeri empat musim.

Bagian 1
Tegar
Aku ini seperti Aisyah yang diam – diam mencintai Ali. Lantas sekarang aku sedang merasakan bagaimana sakitnya mencintai dalam diam.

Senja di ufuk barat semakin pudar jingganya. Aku masih duduk dengan secangkir kopi di teras rumah yang langsung menghadap pantai. Angin semilir menerpa jilbabku, aku begitu menikmati senja hari ini. Aku EdelweissMaryam. Biasa dipanggil Maryam, gadis 18 tahun yang sedang berjuang menitih ilmu di Sekolah Menengah Atas di kotaku. Aku cukup pandai karena berhasil masuk jurusan IPA yang notabnenenya banyak anak – anak pandai. Aku memiliki tinggi badan yang cukup proporsional yaitu 170 cm, memiliki kulit kuning langsat, dan karena aku keturunan Chinese mataku juga terkena cipratannya jadi sipit deh. Sejak kecil aku sudah memakai hijab, karena mamaku sangat kuat dalam mendidik anaknya tentang ilmu agama.

Walaupun, aku anak IPA. Tetapi, aku lebih menyukai ilmu sastra. Menurutku, sastra itu indah mampu mengembangkan kreativitas serta mampu mengembangkan imajinasi kita untuk menyusun sederet kata – kata indah penuh makna. Dari kecil aku sudah akrab dengan buku cerita, dan dongeng.
“Maryam ayo masuk, sebentar lagi adzan maghrib berkumandang.” Ucap mama dari balik pintu utama.
“Iya ma, sebentar lagi aku masuk. Ini lagi beresin buku nih habis belajar.” Jawabku dengan lembut.
Mama, pun melangkah ke dalam. Rupanya, sedang mengambil air wudhu. Aku terlahir dari keluarga yang mempunyai perbedaan terutama dalam hal “agama”, papaku terlahir dari keluarga Konghucu dan mama asli seorang Muslimah. Kehidupan yang aku jalani sekarang memang indah tetapi, tidak dengan masa laluku. Maryam kecil, sangat haus akan kasih sayang seorang ayah. Sangat puas dengan cacian dan makian dari keluarga papa.
Adzan pun berkumandang merdu, tandanya Sang Maha Pencipta sedang memanggil seluruh makhluknya untuk memohon dan memuja-Nya. Islam merupakan agama yang menurutku sangatlah sempurna. Mengajarkan arti toleransi, kasih sayang, kedisiplinan, dan masih banyak lainnya. Aku sangat bersyukur bisa mempertahankan diriku sebagai seorang muslimah.
Aku dan mama pergi menuju surau tua di pantai ini. Langkah demi langkah kulalui dengan canda gurau bersama mama.
“Jadi wanita itu harus kuat. Jangan mudah menangis karena patah hati…” mama tiba tiba berkata seperti itu.
“Ihh.. Mama apaan sih,Maryam aja nggak suka kok sama Dika. Lagian pacaran kan nggak boleh dalam islam.” Sahutku dengan tawa ringan.
Mama pun mencubit pipiku, lalu kembali melanjutkan perjalanan ke surau.

❤❤❤❤

“Kriing!!! Kriing!!!” jam weker ku berbunyi dengan nyaringnya.
Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Waktunya aku berkeluh kesah dengan Maha Pencipta.
Papa memang jarang pulang akhir – akhir ini. Mungkin proyek luar kota yang semakin hari semakin menggunung. Setelah meluangkan beberapa menit untuk meluapkan semuanya kepada Allah, aku mengambil buku pelajaran untuk ku baca lagi. Memang, fisika bukan mata pelajaran yang aku sukai. Penuh rumus, teori dan masih banyak lagi hal yang berhasil membuatku merasah jenuh dengan mata pelajaran yang satu ini.

Setengah jam berlalu, lumayan bisa tidur lagi.
Dika, Mahardika Pratama. Teman sekelasku, berparas gagah, mempunyai mata sipit, berkulit sawo matang, mempunyai senyum manis dan rahang yang tegas, serta suara beratnya yang khas jika didengar. Sudah lama aku menaruh hati padanya. Namun, aku sadar aku hanya mengagumi dia dan tidak lebih dari cukup untuk menjadi seorang teman. Jangan mencintai makhlukNya lebih dari kamu mencintai Tuhannya (Allah S.W.T) kata – kata itu selalu aku ingat saat mama menasehati aku ketika aku sadar bahwa Dika dekat dengan Shasha.

Hari ini giliranku kebagian jemputan pertama dari bus sekolah, jadi jam 5 aku harus sudah stand by di depan rumah. Pak Made dan Kak Hani selalu setia mendampingi anak – anak Chiefly Senior High School

Lampu jalanan masih terang. Pak Made pun tiba, aku langsung memasuki bus. Dan hening sekali suasana bus ini. Hanya aku dan Kak Hani yang asik mengobrol walau hanya sebentar karena di depan sana ada pria yang mukanya tak asing bagiku. Ya, dia Arrahman biasa dipanggil Rahman. Sahabat karib Dika, yang selalu setia menemani kemanapun dia pergi. Rahman menatapku dengan tatapan dingin, rupanya dia masih kepikiran dengan masalah kemarin ketika Dika menolongku dari kecelakaan mobil yang dikendarai oleh Anin.
“Lo, nggak apa - apa Mar?” tanya Rahman dengan nada datar.
“Hmm ya nggak apa – apa sih Man. Orang luka sedikit doang kok di pelipis kanan aku.” Timpalku dengan nada datar pula.
Suasana semakin canggung. Sampai akhirnya Pak Made menjemput Dika
Hari ini dia memakai sweater navy dari mantan kekasihnya Celine. Masya Allah, sungguh indah makhlukMu, aku masih bergumam dalam hati. Wangi parfumnya yang khas memenuhi ruangan bus. Aku memilih duduk dekat jendela ke tiga dari kursi belakang. Tiba – tiba Dika duduk di belakang kursiku, aku mencoba bersikap tidak gugup. Dia kembali membuka buku fisika, nampaknya dia sedang mengerjakan PR dari bu Nisya.
Akhirnya, sampai juga di sekolah. Aku berjalan menyusuri koridor panjang yang penuh dengan loker – loker murid di sekolah ini.

“831, hmm mana yaa buku aku. Perasaan kemarin aku taruh di loker deh.” Aku bergumam sendiri.
Tiba – tiba Ainun mengagetkanku dari belakang.
“Hay Maryam, kamu cari buku ini ya?” Ainun menyodorkan buku biologi milikku.
“Iya Nun, kamu dapat dari mana Nun? Kan kemarin aku taruh di loker.” Ujarku dengan raut wajah bingung.
Aku pun mengambil bukuku dan sepucuk surat dengan sampul ungu jatuh. Di situ tidak tertulis pengirimnya.
“Ciee dapet surat dari siapa tuh? Pangeran kodok ya?” Ainun tertawa terbahak – bahak.
“Yey sembarangan aja, diem – diem gini juga aku punya pengagum rahasia kali Nun.” Aku menimpali perkataan Ainun tadi.


Mana lagi sungai yang harus ku arungi
Aku lelah dengan penantian jenuhku
Rasa ini semakin membabi buta palung hatiku
Yakin tak ingin melihatmu layu dalam sendu
Aku kan slalu ada walau waktu begitu membenciku
Menemanimu dari jauh
Your Prince,


Sepucuk surat dan isinya adalah puisi. Bel masuk pun berbunyi, aku dan Ainun menyiapkan selembar kertas untuk mengerjakan soal ulangan harian fisika. Bu Nisya berkeliling dan menatap tajam setiap siswa jika ada gerakan – gerakan mencurigakan. Dua jam pelajaran telah berlalu, aku pikir dua jam ini adalah uji nyali selama sepuluh jam.
“Lembar jawaban kalian tinggal, soal kalian bawa ke depan dan tinggalkan ruangan!.” Ujar bu Nisya dengan nada tinggi.
“Dika, Rahman, dan Axel. Kalian sedang apa? Mencontek?” bu Nisya menegur Dika dan gengnya karena ulah cerobohnya yang konyol itu.
“Nggak kok bu saya cuma mau ambil pulpen di bawah meja.” Jawab Dika dengan gelagepan.
“Kebanyakan alasan kalian ini! Cepat ikut ibu, ibu hukum kalian di depan kelas.”
Aku dan Ainun hanya bisa terkekeh kecil sambil memandang wajah Dika yang kecapean menahan tubuhnya dengan satu kaki. Aku dan Ainun pergi menuju kantin, untuk membeli semangkuk bakso dan es teh manis. Aku lewat di depan Dika, dan dia tersenyum padaku. Aku hanya bisa membalas dengan senyum tersipu malu. Aku tidak tahu seberapa meronanya pipiku ini.

Meja nomor 56, aku dan Ainun menyantap bakso dengan lahap. Ainun rupanya sedang mencari seseorang. Matanya berjalan kesana kemari.
“Kamu cari siapa Nun? Serius amat sih?”
“Lagi cari Denia, Mar. Dia pinjam buku kimia ku, katanya sih mau dikembaliin pas di kantin. Tapi tuh bocah nggak nongol batang hidungnya.” Cerocos Ainun sambil mengunyah bola daging itu.

Aku memutuskan kembali ke kelas sendirian. Dengan membawa sebotol air mineral, aku melihat Dika masih berdiri dengan satu kaki. Dalam hatiku aku merasa kasihan, tetapi lucu juga ulahnya. Aku menyodorkan botol minum itu.
“Nih minum! Kamu pasti haus kan?” tanyaku dengan ramah.
“Wah thanks, by the way kamu perhatian banget.” Ujar Dika dengan senyum manisnya.
“Untung aja aku beliin, udah jangan banyak tanya. Tinggal diminum aja. Bentar lagi juga hukuman kamu selelsai kok. Makanya jangan nyontek lagi dong, malu sama Malaikat Rakib dan Atid yang stand by terus nulis amalan kamu.” Aku bicara panjang lebar dengan logat bahasa jawa yang medok.
Dika hanya tersenyum mendengar penjelasanku yang panjang lebar itu, dan dia berkata.

“Walau aku bejat kaya gini Mar, tapi aku tahu aku hanya manusia kecil yang nggak ada apa – apanya di mata Allah. Kamu tenang aja, aku bisa memperbaiki diriku.”
Aku terdiam, aku merasa salah dengan ucapanku yang menyinggung Dika. Tanpa mennggu apapun aku meminta maaf pada Dika. Memang benar adanya, bahwa lidah itu tak bertulang maka berhati – hatilah dengan apa yang kamu ucapkan.
❤❤❤❤
“Woy ngapain lo? Jangan berani njambret ibu – ibu doang lo!!!” ucap Dika.
Suara itu terdengar hingga depan gerbang. Kerumuman anak – anak SMA pun semakin menjadi, rupanya Dika sedang berkelahi dengan preman sok keren itu.

“Eh bocah tengik, bau kencur. Lo berani nantang gue? Sini maju lo!” hardik preman itu dengan wajah merah padam.

Baku pukul pun terjadi, warga yang melihat tak berani ikut campur urusan mereka berdua. Aku melihat Dika terluka di daerah pelipis nya dan sudut bibirnya membiru. Namun, perjuangannya membuahkan hasil yang manis. Akhirnya, tas ibu itu terselamatkan.
“Dika!!! Kamu nggak papa kan?” aku bertanya dengan raut wajah panik. Dan jujur saja kakiku masih bergetar.
“Nggak papa kok Mar, gue Cuma luka dikit doang.” Ujar Dika meyakinkan aku.
“A kamu jangan gitu Dik, nanti Maryam sama aku yang antar kamu ke UKS deh. By the way soulmate kamu gak nongol?” timpal Ainun
“Rahman? Dia lagi jalan sama ceweknya ke Amor Café deket perempatan Anggrek.” Dika menjawab pertanyaan Ainun sambil merintih menahan luka lebamnya.

Aku, Ainun, dan Dika akhirnya pergi ke UKS sekolah. Aku masih mencari obat merah, dan alat P3K yang lain, sedangkan Dika masih terbaring lemas di bangsal. Aku diam – diam memerhatikan gerakkan mata Dika yang diam – diam rupanya dia suka curi – curi pandang terhadapku.
Aku bersihkan luka itu dengan alkohol . Perlahan aku menuangkan obat metah ke kapas, lalu aku mencoba mengobati luka Dika yang rupanya semakin membiru dan mengeluarkan darah.
“Auhhh sakit Mar, pelan – pelan dong!” Rintih Dika, tangannya refleks memegang luka yang membiru itu.
“Ini udah paling pelan Dikaaa! Udah kamu diam aja, nanti juga sembuh kok.” Ujarku sambil mengobati lukanya.
Tiba – tiba Shasha muncul dari balik pintu UKS dengan mata liarnya mencari Dika. Dia memasuki ruangan dan memanggil namaku dengan nada tinggi. Aku tak habis pikir kenapa Dika masih bertahan dengan cewek seegois, segalak, dan segenit dia. Aku tahu, walau aku jauh dari kata sempurna namun, aku tulus dan tegar untuk selalu menunggumu,Dik.

Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.


EmoticonEmoticon