Minggu, 24 Maret 2019

Cerita Islami - Different - Bagian 2 Me (accident girl)

Different
(Karya : Marta Sulistia)

Cerita Islami


Bagian 2
Me (accident girl)
“Dasar lo pelakor sok suci, percuma lo pake jilbab tapi hati lo busuk!” Shasha tak henti – hentinya memaki diriku.
“Nggak Sha, semuanya salah paham. Aku cuma nolong cowok kamu, aku nggak ada maksud untuk modus atau ngedeketin cowok kamu.” Jelasku dengan suara parau menahan tangis.
“Udah Sha, mendingan kita pulang. Kamu tuh malu – maluin aja. Maryam tuh nggak ada niatan untuk ngedeketin gue. Dia Cuma temen kelas gue doang!” Dika rupanya mulai naik pitam. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
“Dasar accident girl! Lo selalu datang dan sialnya cowok gue yang jadi korban. Mulai dari kecelakaan mobil, nolong lo pas lo kejatuhan bola basket, dan sekarang lo di sini endingnya cowok gue babak belur gini.” Cerocos Shasha sambil melangkahkan kaki untuk pulang berasama Mahardika.
Ainun hanya membeku, dengan raut wajah pucat pasi menyaksikan cacian dari Shasha.

Adzan Ashar berkumandang, entah kenapa setiap kali adzan berkumandang aku teringan semua kenangan pahit mas kecilku dimana aku benar – benar berjuang untuk bisa memeluk agama Islam, ujian berkali – kali menimpa aku dan mama. Mulai dari caci maki om dan tante, permusuhan yang sengit, hingga pada akhirnya aku, mama, dan papa memutuskan untuk pindah ke Jakarta.
Aku dan Ainun bergegas ke musholah sekolah untuk menunaikan salat Ashar. Kali ini aku tidak pulang menggunakan bus sekolah, karena kejadian tadi aku jadi ketinggalan deh.

Aku berjalan menuju jalan utama, dan aku memutuskan untuk pulang menggunakan bus umum. Namun, ketika di jalan aku menemukan sebuah poster bertuliskan “LOMBA DESAIN BAJU MUSLIMAH”. Deggg!!! Jantungku berhenti berdetak selama seper sekian sekon. That's good things!! Ini merupakan kesempatan emasku untuk mewujudkan semuanya. Aku memang hobby menggambar dan fotografi sejak SD. Dan ini benar – benar membuatku berbunga.
Aku mengambil poster itu dan ku masukkan ke dalam tas ransel hitamku. Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju jalan utama. Memang, sekolahku kawasannya terletak di daerah yang sunyi. Jadi, butuh waktu sekitar setengah jam untuk bisa mencari kendaraan umum. Hal ini diberlakukan karena demi kenyamanan pembelajaran siswa dan siswi di sini.
Ucapan Shasha masih terngiang di pikiranku, aku memang belum bisa menjadi gadis muslimah yang baik. Namun, aku masih mencoba untuk menjadi baik. Karena segalanya membutuhkan proses untuk bisa menjadi apa yang kita inginkan.
Jalanan ibu kota Indonesia memang begitu padat jam – jam segini. Kendaraan berlalu lalang tak kenal lelah demi mengejar waktu dan uang. Bus kali ini memang terlihat sedikit lebih penuh dari hari biasanya, sehingga aku tidak kebagian kursi.
Lima belas menit berlalu. Aku mulai merasa bosan dalam kendaraan yang memaksaku untuk berdiri.
Dari dalam bus aku melihat Shasha berjalan dengan Axel, ya Axel teman karib Dika. Tapi kenapa mereka bisa bersama dan sekarang mereka bergandengan tangan menyusuri pinggiran toko. Ya Allah, aku nggak bisa bayangin kalau Dika lihat kejadian ini secara langsung. Pasti bentuk hatinya sekarang sudah tak beraturan lagi.
Aku mencoba untuk menutup semua kejadian yang aku lihat tadi. Karena sebaik – baiknya manusia itu yang tidak mengumbar aib seseorang. Akhirnya setelah sekian lama menahan kantuk, menahan lapar dan haus, aku pun sampai di Istanaku.
“Assalamu'alaikum mama!!!
Aku mencium bau – bau rendang.
“Wa'alaikumsalam cantik, ayo cepat ganti baju sebentar lagi makanan matang. Dan hari ini papa kamu akan kembali ke Jakarta.” Ujar mama dengan nada yang lemah lembut.
“Asiiikkk akhirnya papa pulang juga, setelah tiga bulan nggak ketemu.”
“Ya sudah sana ke atas dulu taruh baju kotormu di belakang Maaar!!” ujar mama dari dapur.
Hari ini papa pulang, aku senang sekali. Mama pun memasak makanan favorit keluarga “rendang nendang”. Aku bergegas menuju kamar setelah selesai mandi dan ganti baju. Kali ini aku memilih gamis hijau tua untuk menyambut kedatangan papa. Walau aku tahu, papa belum bisa sepenuhnya mengikuti ajaran islam. Salat papa pun kadang masih ada yang bolong, namun kesetiaan dan ketulusan cinta mama selalu bisa membujuk dan menuntuk papa untuk menjadi lebih baik lagi.

❤❤❤❤
Debur ombak terdengar hingga dalam rumah, aku membantu mama menyiapkan makan malam ini. Piring serta lauk pauk dan tak lupa buah – buahan segar penggugah rasa lapar telah tertata rapi di meja berbentuk lingkaran ini. Dengan taplak meja berwarna hijau tosca yang cerah.Suasana rumah menjadi lebih hangat ketika kedatangan papa tiba.
“Teng teng teng!!!!” suara bel berbunyi nyaring. Siapalagi kalau bukan papa yang datang, aku bergumam dalam hati.
Tak lama kemudian, datanglah Raja dari keluargakuuu. Aku sangat senang, papa datang dengan air muka yang bahagia, badannya kelihatan lebih bugar dari sebelumnya. Aku senang, papa di sana merasa bahagia.

“Assalamu’alaikum semuanya!! Papa datang…” ucap papa dengan nada gembira.
“Wa’alaikumsalam papa.” Ucap kami berdua.
“Bagaimana hari – harimu di sekolah sayang?” ujar papa sambil mengunyah makanan pembuka yang telah disiapkan oleh mama.
“Ya, begitulah pa. Kadang senang kadang juga nggak.” Jawabku dengan lesu.
“Masa sih nggak ada? Lalu bagaimana dengan pujaan hati?” papah tertawa kecil.
“Ihh papah apaan sih, kan Maryam aja nggak boleh pacaran. Pacaran kan dosa. Palingan Cuma mengagumi aja sih.” Tambahku dengan senyum tersipu malu.
“Siapa? Dika ya?” papa tiba – tiba melontarkan kata Dika.
“Kok papa kenal sih?”
“Kan dia anak teman papa, om Andi namanya. Ya ia hobby sekali meneritakan anaknya kepada papa.”

Selesai berbincang – bincang asik di meja makan papa dan mama memilih untuk tidur terlebih dahulu. Dan aku memilih untuk masuk kamar. Lampu tumbler warna – warni menghiasi dinding kamarku. Aku selalu berpikir, bagaimana caraku agar Dika bisa berubah menjadi anak yang lebih baik lagi. Sebagai teman yang baik, setidaknya aku ingin dia bisa berubah.
Angin berhembus cukup kencang malam ini, aku memilih untuk mengambil air wudhuh untuk membaca kitab suci Al-Quran. Surat yang aku pilih kali ini adalah surat Maryam.
Setelah satu jam berlalu, dan jam dinding menunjukkan pukul 21.00 WIB. Aku masih di balkon kamar, tiba – tiba aku melihat motor ninja berwarna merah dan seorang pria yang memakai jaket abu – abu. Ketika dia membuka kaca helm nya, dan ternyata diaaa Mahardika.
Mau ngapain tuh cowok malam – malam gini ke sini. Gumamku.
“Hayy Maryam!! Aku mau minta maaf ke kamu. Kamu turun dong sini!” teriaknya sambil memegang sudut bibirnya yang masih terluka.
“Iya sebentar, aku turun Dika.” Jawabku sambil merapikan kerudungku.
Aku menuruni anak tangga dengan hati – hati.
“Ada apa Dik, kok malam – malam gini kamu ke sini? Minta maaf kan bisa lewat sms atau WA.” Jelasku.
“Iya sih, aku nggak enak hati aja. Kamu di maki – maki sama Shasha tadi sore. Aku tau dia keterlaluan banget. Oh iya ini aku bawain kamu martabak manis keju, kan ini jajanan favorit kamu. Biar kamu nggak marah.” Rayunya dengan senyuman genit.
“Heh cowok, aku tuh nggak marah ke kamu tau. Rasul aja pemaaf kok, masa iya aku nggak bisa maafin Shasha sih. Pake bawa martabak segala lagi😂.” Aku tertawa terbahak – bahak.
“jadi nggak mau nih martabaknya?”
“Ya mau lah, siapa yang nolak coba.” Aku tertawa kembali.
Aku merasa nyaman ketika dia ada di sisiku. Ya Allah, mengapa rasa itu semakin nyata? Mengapa aku harus jatuh hati pada seseorang yang hatinya sudah ada yang memiliki. Aku terdiam sambil memandang debur ombar di teras rumah. Dika pun terdiam, rupanya dia pun memahami situasi hatiku.
“Hey kenapa bengong?” suara beratnya mengagetkanku.
“Nggak papa kok, Dik maaf aku mau tanya. Kenapa kamu kok bisa jadi cowok yang “nakal”?” ujarku sambil menatap dua bola kristalnya.
“Long story Mar, nyokap gue meninggal sejak gue kelas 2 SMP. Semenjak nyokap gue pergi, bokap gue jadi nggak karuan dia main judi, dia mabuk, dia main perempuan. Dan gue muak sama semua hal yang bokap gue lakuin. Gue jadi frustrasi, akhirnya gue kecanduan game online, gue gabung sama geng anak nakal. Dan itu semua jadi dark secret gue Mar. Gue berdoa terus sama Allah supaya bokap gue dikasih sosokpendamping yang bisa merubah segalanya.” Dika cerita panjang lebar dan aku melihat air matanya menggenang di sudut matanya.
“Terus?” aku meminta dia melanjutkannya.
“Dan pada akhirnya, bokap gue nikah sama tante Elis sahabat almarhumah nyokap gue.”
“Alkhamdulillah, tetapi aku jarang lihat kamu salat. Aku jarang banget ketemu kamu di musholah. Emang kalau jam segitu kamu kemana aja?”
“Gue nongkrong di kantin bi Inah. By the way, besok ajarin gue sastra inggris ya. Sama ajarin gue ngaji, kan besok hari sabtu. Inget sekolah kita full day full task!!” dia tertawa renyah sekali.
“Ya Allah Dika, siap deh. Semangat untuk belajar ngajinya. Oh ya, ini udah malam nggak kerasa satu jam kita ngobrol.”
“Yaudah gue cabut dulu Mar, masih ada urusan nih.”
“Ya, hati – hati.”
“Assalamu’alaikum”
“Wa'alaikumsalam, jangan ngebut lho. Jakarta itu serem😂
Suara motornya menggema, Dika tersenyum kepadaku. Entah kenapa aku selalu senang ketika dia bisa tersenyum.
Aku hanya memandang punggung bidangnga yang semakin menjauh dariku.
“Drrttt drrrttt” ponselku bergetar dari dalam saku. Dan, 4 peesan whatsapp masuk dari Ainun.
Aku membuka pesan itu yang rupanya penting banget buat Ainun.


[Ainunku; 10.00 PM/Saturday] :Assalamu’alaikum Maryam, tadi aku dapet kabar kalau Axel dan Dika berantem. Kamu nggak masuk grup kelas? Sekarang mereka berdua dirawat di RS Mitra Abadi
[Ainunku; 10.00 PM/Saturday] : bales dong wa aku!!
[Ainunku; 10.00 PM/Saturday] : gara – gara Axel ngrebut Shasha dari Dika.
[Ainunku; 10.00 PM/Saturday] : katanya tadi sore Axel sama Shasha jalan berdua.

Astaghfirullahaladzim, cobaan apa lagi buat Dika?
Setelah dia benar – benar terluka karena keluarganya dan dia kehilangan kekasihnya karena sahabatnya sendiri. Mungkin besok aku akan menjenguk mereka berdua, kaya gitu juga mereka teman baikku.

❤❤❤❤

Hari ini aku tidak menggunakan jasa pak Made untuk mengantarku ke sekolah, kali ini papaku tercinta akan mengantar putrinya ke sekolah. Dan mama pun ikut, karena papa dan mama akan mengunjungi rumah tante Susi di Tangerang. Mungkin mereka akan pulang malam.
“Nok (sebutan sayang untuk anak perempuan), hari ini papa sama mama mau main ke tante Susi nanti kamu pulang pakai bus atau taxi aja. Barangkali kamu lapar uangnya sudah papa taruh di meja belajar kamu.” Ujar papa sambil nyetir mobil.
“Atau kalau kamu ingin cemilan, tadi mama sudah buatkan kamu cupcake keju kesukaan kamu. Tinggal taruh microwave aja kalau ingin yang hangat.” Tambah mama sambil merapikan isi tasnya.
“Iya pa, ma. Tapi jangan lama – lama pulangnya. Nanti aku sendirian di rumah.” Timpalku dengan raut muka manja.
“Iya siap komandan kecil papa.”
“Ih pa, aku udah gede. Udah 18 tahun masih aja dibilang kecil” aku tersenyum dan memukul kecil pundak papa.
“Tuh, sudah rame. Ayo cepat masuk kelas nanti terlambat!” ujar mama dengan lembut.
“Siap bu bosss!” aku mencium tangan papa dan mama serta tak lupa mengucap salam.
Aku berjalan sendirian, kali ini tujuan utamaku adalah loker kesayangan. Notes berwarna merah darah menempel di pintu lokerku dan itu bukan cuma satu lembar saja. Aku baca satu per satu, semuanya berisi bahwa aku adalah penyebab putusnya hubungan antara Shasha dengan Dika.
Teman – teman di sekitar ku memandangku dengan tatapan tajam menusuk hingga relung hatiku. Aku tahu ini semua kerjaannya geng Shasha yang biasa jadi kompor. Tega bener deh mereka, mencabik – cabik seluruh hatiku. Memang aku suka sama Dika, namun aku nggak bermaksud untuk menjadi orang ketiga diantara mereka bahkan membuat hubungan mereka kandas.
Tiba – tiba Ainun muncul dan langsung menarik aku menuju kelas.
“Apa kalian lihat – lihat? Kalau belum tahu faktanya jangan kebanyakan nyinyir!” ujar Ainun dengan penuh emosi.
Ainun mengambil langkah cepat menuju kelas, napasku terengah – engah. Peluhku sudah mulai bercucuran.
“Kamu tahu Maryam? Gara gara geng kaleng rombeng itu, nama kamu tercemar di seluruh jagad raya sekolah kita tercinta. Padahal kamu nggak seburuk apa yang mereka omongin, dan kamu tahu..” Ainun mencoba mengatur napasnya yang rasanya hampir putus itu.
“Tenangin diri kamu Nun, aku tahu semua hanya skenario dari geng Shasha.” Ujarku sambil mengusap punggung Ainun
“Kenapa kamu sesantai itu sih? Ketika harga diri kamu berada di ujung tanduk. Kamu diinjak – injak sama Shasha, mulut dia pandai sekali membolak – balikkan fakta Mar.” ujarnya sambil mengelap dahinya dengan tisu.
“Aku juga pusing Nun, aku juga ingin semua masalah itu selesai.” Tambahku sambil menahan tangis.
“Kalian kenapa kok mukanya ditekuk gitu?” tiba – tiba Rahman menghampiri aku dan Ainun.
“Semua gara – gara temen kamu Man, kalau aja Dika nggak deket – deket Maryam nggak bakal serunyem ini masalahnya.” Cerocos Ainun.
“Tenang aja Nun, semuanya bisa gue atur. Gue bakal hack semua akun media sosial Shasha dan gue bakal bikin seolah olah Shasha itu bunuh diri alias dia ngaku bahwa semuanya itu adalah kebohongan.” Ujar Rahman dengan nada santainya yang khas.
“Man, tolong aku dong… ini beneran deh rumit banget. Berasa ada benang kusut di otak aku.” aku merengek.
“Tenang aja, gue gini – gini juga jago ngehack. Tapi lo harus tutup mulut.” Ujar Rahman

Bel masuk pun berbunyi, kali ini pelajaran jam pertama kosong karena para guru sedang rapat membahas tentang pelaksanaan jam tambahan untuk kelas 12. Saatnya Rahman memainkan perannya, aku dan Ainun hanya memerhatikan saja. Satu persatu akun sosmed milik Shasha ia hack. Dan yang membuatku semakin terkejut Rahman ternyata memiliki foto pas Shasha dan Axel kencan kemarin sore.
“Kok kamu nyimpen foto itu? Kamu dapat dari mana?” tanyaku dengan raut wajah kaget.
“Pas itu, gue jadi nyamuk buat nemenin mereka kencan. Sebenarnya sih gue juga udah naik pitam ketika sahabat gue sendiri nusuk Mahardika dari belakang. Gini – gini juga cowok punya perasaan.” Ujar Rahman sambil menekan keyboard laptopnya.
“Seriusan kamu Man? Kenapa nggak kasih tau langsung ke Dika?” tambah Ainun sambil mengemut permen cokelat susu kesukaannya.
“Serius atuh teh, masa iya gue bohong. Makanya itu dengan cara begini gue bisa balas semua perbuatan Shasha dan Axel yang berhasil buat gue muak.”
Rahman kembali mengetik sesuatu yang benar – benar membuat Shasha malu atas apa yang dia ucapkan kepada khalayak umum. Dan, aku masih saja memikirkan keadaan Dika di sana.Kalau aku nggak muncul dan nggak sedekat itu sama Dika mungkin semuanya nggak bakal terjadi.
That's done girls!! Gue berhasil ngebuat skenario yang apik buat Shasha, gue puas ngeliat Shasha bakal nanggung rasa malunya.” Rahman tertawa.
Memang suasana kelas sedang sepi, jadi apa yang kita bertiga lakukan nggak ada yang memerhatikan.
“Kamu yakin Shasha bakal ngerasa malu? Secara dia kan anak hitz di sekolah ini.”
“Yakin banget Mar, udah lo tenang aja. Pas jam istrihat lo perhatiin aja gimana reaksi anak – anak ketika liat muka Shasha.”
“Oke aku sama Maryam bakal memperhatikan secara baik – baik” ujar Ainun.
Jam istirahat pun tiba, kali ini Rahman bergabung dengan teman kelas 11 nya dulu. Aku dan Ainun memilih meja di sebelah gerombolan Rahman, biar sama – sama menyaksikan reaksi teman – teman. Kali ini aku memesan semangkuk bubur ayam dan segelas teh anget, dan Ainun memesan burger mini dan soft drink. Dan saat yang ditunggu akhirnya tiba, Shasha pun datang bersama 3 anggota gengnya yaitu Chorelia, Yuans, dan Hena. Seketika anak – anak satu kantin bersorak padanya, mereka mencemooh Shasha.
“Dasar tukang nyinyir ternyata sendirinya yang selingkuh! Huhhhh” ujar teman – teman di kantin.
Shasha hanya terdiam dan mengurungkan niatnya untuk makan di kantin, dia menahan rasa malu di wajahnya. Akhirnya, Shasha pun meninggalkan kantin rupanya pipinya telah basah karena air matanya jatuh.
“Tuh kan Mar, lo bisa lihat sendiri gimana reaksi si cewek ganjen itu. Gue senang akhirnya apa yang gue lihat sesuai espektasi gue.” Ujar Rahman sambil tersenyum ke arahku.
“Gila lo Man, keren sungguh. Hacker hebat loh ya. Awas aja kalo lo nge hack akun gue!!” ancam Ainun.
“Ehh kok jadi kamu ngikutin logat dia sih?” aku tertawa kecil
“Walahh aku kebawa sama logat khas Jakartee.” Ainun ikut – ikut tertawa.

❤❤❤❤

Arlojiku menunjukkan pukul 16.00 WiB. Waktunya go home!!! Tetapi, hari ini aku ada janji sama Ainun dan Rahman. Kita akan menjenguk Dika dan Axel di rumah sakit, dan baiknya lagi aku dan Ainun nebeng mobil sportnya Rahman yang katanya baru beli sekitar 4 bula  yang lalu.
Memang aku tak heran, Rahman terlahir dari keluarga yang berada, Rahman mempunyai segalanya. Rumah dengan fasilitas seperti hotel berbintang, mobil mehong, dan tak kalah dengan Dika dia juga pacaran dengan Camelia mantan ketua osis angkatanku. Tetapi, dia selalu menjadi orang yang humble. Itu yang aku suka dari pribadi seorang Arrahman.
“Kalian mau beli buah dulu nggak? Nanti biar kita mampir ke pasar buah dulu.” Ujar Rahman sambil asik memutar setir mobilnya.

“Boleh Man, aku juga mau beli sesuatu buat Dika.” Tambahku sambil memeriksa tasku.
Ainun masih asik membaca tafsir hadist yang ia beli kemarin sore di pasar malam.

“Gue dapat kabar kalau Dika udah sadar, nanti ke pasarnya jangan ngaret oke?”
“Siap Rahman!!” ucapku semangat.

Suasana pasar cukup lengang. Mungkin, karena waktunya sudah sore para pembeli sudah memenuhi pasokan buahnya. Aku melangkahkan kaki menuju toko buah, aku memilih buah melon, anggur, apel, pisang, dan buah pear.Buah telah tersusun rapi saatnya aku menuju ke satu toko lagi, walaupun ini namanya pasar buah namun pasar ini seperti pasar pada umumya. Hanya saja, di sini lebih dominan pedagang buahnya daripada pedagang lainnya. Lalu, aku melanjutkan kembali perjalananku ke toko baju muslimah. Di sana, aku membeli sarung dan tasbih untuk Dika.

Rupanya, Rahman sudah di dalam mobil bersama Ainun. Aku langsung bergegas menuju mobil untuk mempercepat waktu Rahman langsung tancap gas menuju rumah sakit. Dika dirawat di ruang Lavender nomor 221. Aku, Ainun, dan Rahman langsung menuju ke sana.
“Jangan tunjukkan raut wajah sedih lo guys! Keep make him happy.” Ujar Rahman sambil membawa jinjingan yang berisi parsel buah yang tadi aku beli.
“Siap ndan! Tapi, jalannya bisa dipelanin dikit nggak? Gue ngos – ngosan nih!” Ainun kembali mengatur napasnya. Memang, cowok kalo jalan itu langkahnya panjang jadi terkesan cepat.
“Iya Man, pelanin dikit kasian tuh Ainun mukanya udah pucat” aku sambil tertawa.
Alkhamdulillah, sampai juga di kamar nomor 221.

“Kamu aja yang ketuk pintunya!” Rahman memintaku untuk mengetuk pintunya.
“Ya Allah, ngetuk pintu aja pake malu – malu sih Man.”
TOOKK!!! TOOKKK! TOOKKK!
Aku menarik gagang pintunya. Dan Dika sedang makan, ada tante Elis dan om Andi.
“Assalamu’alaikum om, tante..” ucap kami bertiga dengan memancarkan senyuman manis.
“Wa’alaikumsalam, ayo masuk nak!” Jawab tante Elis dengan ramahnya
Dika menatap mataku nanar, aku terkejut ketika dia memanggil namaku.
“Maryam!!”
“Ya Dik? Gimana keadaan kamu?”
“Ya begini, luka kemarin belum sembuh ditambah luka yang ini.” Jelas Dika sambil memasang mimik memelas
“Makanya bro, nggak usah marah ketika cewek lo yang jelas – jelas nggak sayang sama lo malah lo pertahanin.” Timpal Rahman dengan nada santai yang khas.
“Iya lo bener bro..”
Allahuakbar Allahuakbar!! Adzan maghrib berkumandang merdu. Waktunya kami melaksanakan kewajiban kita yaitu salat. Kebetulan Dika dirawat di kamar VVIP, jadi kita bisa melaksanakan sholat jamaah di sini. Kali ini om Andi menjadi imam. Sebelum salat di mulai, aku memberika sebuah bingkisan untuk Dika, aku meminta dia memakainya.
Thanks Mar, semenjak gue kenal lo. Gue semakin tahu bahwa Tuhan itu sayang sama hamba-Nya” tutur Dika sambil menatap wajahku.
“Iya Dik sama – sama. Ayo kita salat dulu.” Ujarku sambil menggelar sajadah.

Setelah selesai menunaikan kewajiban, om Andi dan tante Elis pergi mencari makanan untuk kita semua. Namun, karena aku sendirian di rumah aku pamit untuk pulang terlebih dahulu.

“Teman, aku pamit pulang duluan ya. Soalnya rumah lagi sepi nih. Nanti habis isya aku on the way kesini deh.”
“Boleh, tapi kamu pulang pakai apa? Kan ini udah malam?” tanyanya sambil menarik selimutnya.
“Bus juga masih ada kok, tenang saja Mahardika.” Jawabku sambil meyakinkanya
“Nggak!! Nggak!! Kamu pulang sama Rahman saja nanti Ainun juga ngikut toh ini kan sudah malam. Ya walaupun besok libur, kalau mau main di sini juga nggak papa. Tapi, kalian harus ijin dulu sama orang tua kalian.” Jelas Dika panjang lebar.
“Udah tenang aja mas bro gue bakal antar nih bestie gue. Dan gue bakal jemput mereka.” Tambah Rahman sambil memainkan kunci mobilnya.
“Assalamu’alaikum Dika, cepat sembuh yaa!

Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.


EmoticonEmoticon