Senin, 25 Maret 2019

Cerita Islami - Different - Bagian 3 Crack

Different
(Karya : Marta Sulistia)

Cerita Islami



Bagian 3 


Crack
Selamat pagi embun yang masih setia menemani rumput, selamat pagi perasaan yang sukar untuk ku tepis kebenarannya.
Hari ini aku mendapat bagian jemputan ke dua setelah Rahman. Aku sudah bersiap dengam seragam dan tas ranselku. Papa dan mama rupanya akan pulang besok pagi, dan aku harus tinggal sendirian lagi.
Setelah sarapan roti dan segelas susu, aku berangkat menuju jalan utama. Deru angin pantai pagi hari sangat sejuk, mentari pagi mulai mengeluarkan sinar jingganya, dan terpantul ke air laut. Masya Allah…
Sudah empat hari Dika nggak masuk sekolah, mungkin hari ini dia bakal masuk. Empat hari sudah aku menyelesaikan tugasku untuk mengajarkan materi ke Dika, kasian juga kalau dia sampai ketinggalan pelajaran.
“Neng sudah siap berangkat?” tanya kak Hani padaku dengan nada bersemangat.
“Sudah dong kak, kakak semangat amat nih? Lagi jatuh cinta yaa?” guyonku sambil menggoda kak Hani.
“Heh ini bocah tahu aja ya, kalo orang tua lagi kesemsem.” Ujar kak Hani sambil terkekeh.
“Tahu dong! Kakak aja ketawa melulu kok dari tadi. Awas kak jangan ketawa – ketawa terus nanti dikira kurang 1 ons lagi” aku tertawa terbahak – bahak.
Pak Made pun ikut tertawa. Di dalam bus sudah ada Rahman, kali ini dia tidak pakai mobil sportnya. Dia sedang asik dengan earphonenya, makanya dari tadi dia tidak menghiraukan apa yang kita bicarakan. Aku memilih tempat duduk di tempat biasa ketiga dari belakang dan duduk di dekat jendela bus. Oh ya, hari ini pengiriman hasil desain busana muslimku ke e – mail perusahaan Moslem butik. Pemenang lomba akan mendapatkan uang tunai senilai Rp 17.500.000,- dan hasil desainnya akan dibuat dan akan dipamerkan di ajang fashion di Singapura.
Tiba – tiba suara Rahman memecah keheningan.

“Dika hari ini berangkat sekolah.” Ucapnya singkat.
Aku semakin bingung dengan sikap Rahman, kadang dia seasik yang lain kadang dia bisa sedingin es batu.
“Alkhamdulillah dia sudah sehat.” Jawabku singkat pula.
Lalu Rahman memasang kembali earphonenya dan bersenandung kecil. Daripada aku ngelamun nggak jelas lebih baik aku berdzikir.

Mentari semakin meninggi, bus sekolah semakin ramai. “ sebentar lagi kita sampai, penumpang dimohon bersiap – siap” ujar kak Hani menggunakan pengeras suara. Aku pun langsung bersiap – siap dan memasukan tasbih kecilku ke dalam tas.
Alkhamdulillah, akhirnya sampai dengan selamat berkat perlindungan dari Sang Illahi. Ketika aku memasuki gerbang Shasha sudah berdiri di sana, apa dia akan memakiku lagi? Apa dia akan membuatku malu. Aahh jangan suudzon dulu dong Mar kita harus huznudzon.
Tiba – tiba Shasha mengulurkan tangan lentiknya, rambutnya yang lurus tergerai indah. Namun, akan lebih indah lagi jika dia memakai hijab seperti aku dan Ainun.
“Mar, aku minta maaf sudah berburuk sangka ke kamu. Aku tau Dika hanya pantas untukmu ajarkan dia ke jalan yang lebih baik. Aku hanya bisa berpesan padamu, besok pagi aku suda tidak bersekolah di sini. Aku akan ikut papa ke Belanda.” Ucapannya sangat lembut, genangan air matanya tak bisa ia bendung lagi.
“subhanallah Shaa, sudah aku maafkan semuanya. Insya Allah aku akan merubah sikap dan perilaku Dika menjadi lebih baik lagi. Insya Allah Sha.” Jawabku sambil mengelus pundaknya.
“Maafin aku ya Mar,” Shasha memelukku dan kembali ke kelasnya.
Rabb mu tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan hambaNya.  Aku melanjutkan langkahku ke kelas XIIA1, di sana Ainun sedang asik berkutat dengan matematika. Ainun, adalah sososk sahabat yang baik, ia selalu memberi masukan serta saran

positif terhadapku, ia selalu ada buatku dan aku bangga padanya ia selalu istiqomah berhijab walau ibu dan bapaknya tak menyukainya.
“Hai cewek!! Pagi – pagi sudah sibuk sama matematika nih.”
“Iyaa nih Mar, aku masih bingung gimana ya cara memecahkan masalah di soal nomor 15 ini.” Keluhnya sambil menggerak – gerakkan pensilnya.
“Hmm sini coba ku lihat, oh soal ini… sebentar aku ambil bukuku dulu. Coba kamu turunkan dulu cos (3x – 5) lalu kamu sederhanakan dengan rumus u'v – uv' nanti ketemu kok jawabannya.” Ujarku sambil mengajari Ainun
“Sebentar aku hitung dulu.. Oh iyaa ketemu. Syukron Maryam!!” dia memelukku hangat.

❤❤❤❤

Bel masuk berbunyi nyaring, tiba – tiba Dika datang lukanya sudah memudar namun dia asih berpenampilan sama denga seragam dikeluarkan dan gaya rambut yang acak – acakan. Aku harus bisa mengubahnya pelan – pelan. Dika tersenyum padaku, aku pun membalas senyumannya. Mungkin senyuman tadi tanda terimakasihnya atas bantuanku mengajarkan matematika yang serumit ini.
Enam jam pelajaran sudah terlahap habis oleh waktu. Adzan Dzuhur berkumandang, waktunya menunaikan kewajiban. Seluruh teman – teman kelas menuju ke musholah untuk menunaikan salat Dzuhur, aku mencoba mengajak Dika untuk ke musholah.
“Dik ayo salat dulu, nanti habis salat kan bisa ke kantin bareng sama yang lain.” Ujarku sambil mengambil mukenah dalam tasku.
“Hmm boleh, nanti aku nyusul sama Rahman. Kalian duluan aja.” Jawabnya singkat.
“Ya sudah aku duluan ya, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”


Akhirnya aku bisa melihat perubahan pada diri Dika, walau hanya seujung kuku. Namun, aku tetap mengapresiasinya. Hari ini, Dika ingin belajar mengaji dengan bantuan Rahman soulmate nya dan Ainun. Ainun pernah menjuarai lomba tartil tingkat provinsi. I proud of you Nun!
“Gue tunggu kalian di rumah gue ya pulang sekolah!” ujar Dika sambil memasukkan buku – bukunya. Rupanya hari ini dia tidak latihan basket.
Aku dan Ainun segera memasuki bus. Namun, ponselku berdering dan ternyata papa telepon.
“Assalamu’alaikum nak? Hari ini papa pulang cepat dan papa bawa oleh – oleh dari tante kamu nih. Ada kue bulan kesukaan kamu. Jadi papa ingin kamu pulang cepat.”
“Wa’alaikumsalam pa. Iya ini Maryam lagi naik bus sekolah, papa tunggu di rumah saja ya.”
Papa langsung memutuskan teleponnya. Perjalanan berlangsung selama 30 menit, aku menjelaskan pada Ainun bahwa hari ini aku tidak bisa ikut untuk mengajari Dika mengaji. Ainun pun memakluminya.
Sesampainya di rumah, aku mendengar suara kegaduhan di daerah ruang tamu.
“Kalau kamu lebih mementingkan harta warisan lebih baik kamu pergi saja. Agama itu bukan untuk taruhan pa! Aku lebih sayang Maryam daripada harus pindah agama demi harta warisan dari ibumu!” ucap mama sambil menangis.
“Terserah kamu dalam waktu 1 bulan kamu tidak memberi keputusan lebih baik kita pisah!” papa menghardik.
Aku hanya terdiam, serasa ada seribu tombak menghujam hatiku. Papa yang selama ini aku kenal seorang yang bijaksana ternyata tega mempertaruhkan agama Islam demi sebuah uang. Bahkan, nabi Ayub yang diberi cobaan yang bertubi – tubi pun tetap sabar dan tetap berusaha sekaligus berdoa kepada Allah azza wa Jalla. Tetapi, papa… Ya Allah berikan hambaMu ini kekuatan untuk menghadapi segala macam cobaanMu, berikan hambaMu ini ketabahan serta jalan keluar, hamba tahu bahwa engkau memberikan cobaan tidak melebihi


kemampuan hambaMu. Dan hamba mohon, berikanlah hidayah untuk papa agar papa tahu mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah.
Mataku terasa panas, aku tak bisa menahan tangis. Aku berdiri di samping rumah, debur ombak menjadi saksi kepiluan hatiku ketika semuanya berada di ujung tanduk. Papa pergi dengan mobilnya entah kemana. Aku langsung masuk dan memeluk mama.
“Ma, yang sabar semuanya akan berakhir indah. Allah sayang kita ma!” aku mencoba meyakinkan mama, isak tangis pun tak bisa tertahan mama hanya menangis dalam pelukanku.Malam ini aku putuskan untuk tidur bersama mama, mama sedang kalut dalam kesedihannya. Islam agama istimewa, islam agama penyempurna dari seluruh agama. Agama yang lain pun sama mengajarkan hal – hal baik kepada kita semua. Namun, yang jadi penghambat dari semuanya adalah manusia. Sikap serakah dan tak mau kalah tidak bisa ditepis dari semua itu. Aku beruntung bisa menjadi seorang muslimah, yang dididik mama sesuai dengan aturan – aturan islam.

❤❤❤❤

Islam berkembang di Indonesia sangat pesat, bahkan sekarang indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk yang beragama Islam tertinggi di dunia. Dan, inilah risiko yang harus diterima olehku ketika aku hidup di tengah – tengah keberagaman agama. Aku sempat diminta untuk melepas hijabku saat acara pernikahan cici (sebutan kakak perempuan dalam budaya Cina) Gabrielle. Namun, pada saat itu mama terus membelaku. Aku pun demikian, selalu menolak jika hijab yang aku pakai dipaksa untuk dilepas.
Kini, masalah yang aku lalui sangat rumit. Aku tidak boleh diam saja seperti ini, agama bukanlah mainan! Pikirku. Akhirnya aku memutuskan untuk ijin sekolah esok hari. Karena, semua masalah ini perlu jalan keluarnya.
Mama masih merapikan baju yang harus dibawa untuk besok pagi. Karena, kita akan ke rumah nenek dan Engkong ( sebutan kakek dalam budaya Cina). Aku memesan dua tiket kereta api bisnis untuk ke Surabaya.

“Bersabarlah nak, semua akan ada jalan keluarnya. Berikhtiarlah lalu bertawakal, jangan mudah menyerah. Allah memberikan semua ini karena Allah sayang sama kita. Mama tidak pernah menyesali pernikahan dengan papamu.” Pandangan mama kosong menerawang jauh ke masa lalu ketika keluarga kita benar benar berada di bawah. Lalu, kita dikucilkan oleh keluarga papa, sampai akhirnya papa berusaha mencari mata pencaharian yang layak demi menghidupi Maryam kecil. Ya, waktu itu aku berusia 3 bulan dan disaat itulah ekonomi keluargaku benar – berada di dasar. Sampai – sampai mama pun buka usaha catering makanan.
Semuanya mulai membaik ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun, semuanya tidak bertahan lama. Larisnya catering mamaku rupanya membuat teman mama iri hati. Mama jatuh sakit tiba – tiba dan semuanya semakin memburuk ketika mama didiagnosis terkena kanker paru – paru. Namun, beberapa kali pengobatan yang dijalani mama tidak membuahkan hasil.
Akhirnya, keluarga memutuskan membawa mama ke pak Ustad untuk meminta tolong agar mama dirukiah. Dan benar saja, bahwa penyakit hati itu lah yang menyebabkan mama terkena gangguan dari makhluk halus.
Tapi semuanya hanya masa lalu, ya masa lalu yang begitu pahit
“Ma, aku mau ke swalayan dulu ya, mau bayar tiket dulu.” Ujarku sambil memakai sweater karena malam ini terasa sangat dingin, dinginnya hingga menusuk ke tulang.
“Ya nak, hati – hati. Nanti pulangnya kamu mampir ke mbok Yati ya, mama mau menitipkan ini untuknya” mama menyodorkan selembar uang lima puluh ribu rupiah. Mungkin upah mbok Yati membantu mama saat ada pesanan tumpeng.
Aku berjalan menyusuri trotoar seorang diri, dan tiba – tiba mobil Honda Jazz berwarna putih menghampiriku. Siapa sih, kenapa tuh orang masih aja di situ? Perlahan pintu mobil pun terbuka. Dan seorang pria jangkung, datang. Postur tubuhnya nggak asing bagiku, sweater abu – abu membalut kulitnya. Ah, Dika! Kok bisa ya sampe sini?.
“Eh Mar, kok lo malam – malam gini pergi sih. Mana buru – buru banget jalannya. Emang mau kemana?” ujarnya sambil menggosok – gosokkan kedua telapak tangannya.


“Aku mau ke swalayan aja sih, mau bayar uang tiket buat besok pergi. Oh ya mumpung ada kamu nih Dik, aku sekalian mau nitip surat ijin.” Aku meyodorkan amplop putih yang berisi surat ijin.
“Oke Mar, gue bakal sampaikan ini ke bu Ajeng. Lo mau ke swalayan kan? Bareng aja sama gue pake mobil. Daripada lo jalan kaki habis itu naik becak, kan lama. Sekalian gue beli titipan nyokap.”
“Hmm yakin Dik? Tapi jangan macam – macam lho!” aku mencoba mengancam dia dengan tatapan sinis.
“Nggak bakalan dong Mar,” Mahardika tersenyum manis padaku.
Jalanan kota cukup lengang, aku mencoba menyalakan radio di mobil Dika. Dan pas banget nih, lagu yang diputar sekarang lagu favorit aku “Yaa Maulana Yaa Maulana”. Sambil mendengarkan lagu, aku juga menikmati pemandangan Jakarta pada malam hari, café yang dihiasi gemerlap lampu dan dipenuhi oleh para pasangan muda. Lampu merah lun beraksi, mobil berhenti suasana masih dingin antara aku dan Dika.Namun, mataku terpaku pada salah satu pasangan yang sepertinya aku kenal sosok lelaki itu. Dan itu papa!
“Dik, please kamu bisa menepi sekarang nggak? Itu papa aku dik!”
“Iya gue parkir di area parkir café, kok bokap lo sama cewek sih Mar?” tanya dika dengan tangan yang masih menempel pada kemudi mobil.
“Iya Dik itu papa! Aku harus turun!. Papa pegang – pegang tangan cewek itu.”
“Sabar Mar, lo tenangin diri lo!” Dika berusaha meredam emosiku.
Aku langsung bergegas menuju papa dan wanita penggoda itu. Rasa sesak menyelimuti hati. Teriris sudah hatiku ini, kristal bening di sudut mataku perlahan mulai turun.
“Maksud papa apa? Kok papa tega pegang – pegang cewek selain mukhrim papa? Papa tega pa, papa nyakitin hati mama. Tercabik – cabik pa perasaan mama kalo mama lihat ini.”


“Kamu jangan salah paham dulu nak, ini cuma klien papa.” Jelas papa namun dengan ekspresi gugup.
“Ingat pa, Allah selalu memantau papa.. Maafkan Maryam jika Maryam memang lancang sok menasehati papa. Tapi jika papa mencintai mama, pulanglah. Dan selesaikan masalah ini dengan tuntas. Besok kita akan ke Surabaya, dan aku akan mengadukan semua perbuatan papa ke nenek dan engkong. Dan anda, wanita yang kurang kerjaan. Lebih baik tinggalkan papa saya! Dan jangan pernah kembali untuk menghancurkan keluarga aku!”. Aku benar – benar emosi.
Namun, akhirnya papa memutuskan pergi meninggalkan aku dan Dika. Perempuan itu pergi dengan taxi. Dan papa pergi menggunakan mobil kantornya, pikiranki kacau sangat kacau bak diterpa badai. Dika hanya bisa menepuk pundakku untuk menenangkanku. Aku masih kalut dalam kesedihan. Aku nggak nyangka ternyata papa yang selama ini aku kagumi, aku hormati, dan aku cintai ternyata mengukir kembali luka dalam hati.
Aku mengakhiri semua ini dengan memutuskan untuk pulang setelah membayar tiket kereta.
“Udah, sabar saja Mar. Gue pernah ngerasa di posisi sulit kaya yang lo hadapi ini. Cuma, gue lebih high levelnya.” Dika berusaha menghiburku.
Aku hanya terdiam, dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipiku. Tiba – tiba Dika memberikan sapu tangan miliknya.
“Jangan nangis lagi, hidup itu nggak selamanya bahagia. Hidup itu punya siklus Mar, bisa dimulai dari susah dulu lalu lo bisa bahagia atau sebaliknya.”
“Iya Dik, tapi ini terlalu sakit. Dan aku nggak berpikir sejauh ini.” Jelasku sambil mengusap air mata.
“Ya sudah, sekarang udah malam. Kamu masuk aja biar bisa prepare barang – barang yang mau lo bawa ke Surabaya.”
“Terimakasih banyak Dik, kamu memang sahabat aku yang baik. Semoga Allah membalas kebaikan kamu. Assalamu’alaikum Dik, hati – hati di jalan.”
“Wa'alaikumsalam,”
Arloji di tanganku menunjukan pukul 22.08 WIB. Aku langsung menuju kamar untuk terlelap sejenak bersama bintang.
Aku dan mama langsung menaiki taksi itu. Rasa sesak dalam dada masih teras

Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.


EmoticonEmoticon