Different
Bagian 4
Tears
in Surabaya
Fajar telah tiba,
sinarnya terasa hangat. Setelah menunaikan kewajiban dan segala keperluan untuk
aku bawa ke Surabaya. Kereta berangkat jam 8.30 WIB, butuh waktu satu jam untuk
menuju ke stasiun. Jalanan kota masih lengang. Pepohonan di jalan masih asik
menari dengan eloknya mengikuti arah angin. Mataku masih terasa berat setelah
berjam – jam menangis.
“Nak, ayo kita berangkat.
Sebentar lagi taksinya sampai. Kamu bawa koper merahnya nanti mama bawa oleh –
oleh untuk nenek kamu.” Ujar mama sambil memakai jaket merah hadiah anniversary
pernikahan mama dan papa yang ke 19.
“Siap ibu negara!!”
jawabku dengan penuh semangat.
Tak sampai seperempat
jam, taksi pun tiba. Rasa sesak dalam dada masih sangat terasa. Mungkin mama
juga merasakanny bahkan lebih perih dan menyakitkan dari apa yang kurasa. Aku
memilih kursi di belakang, mama memilih kursi di bagian depan bersama pak
supir. Bantal leher sudah stand by.
Pagi ini cukup cerah,
namun hatiku tak secerah itu. Bahkan semalam berhasil diporak – porandakan oleh
badai masalah. Kacau sudah, aku kira papa tidak akan memberikan sedikitpun luka
pada mama maupun aku. Namun, yang aku pikirkan salah kaprah.
Satu jam berlalu, jam
tanganku menunjukkan pukul 7.45 WIB. Tandanya masih ada sisa waktu untuk aku
sarapan. Kali ini mama masak makanan kesukaanku, yupss omelet mozzarella.
“Makan yang kenyang, kan
kita ke Surabaya butuh waktu 10 jam.” Jelas mama sambil merapikan jilbabku.
“Iya ma… memangnya mama
udah sarapan?” ujarku dengan wajah polos
“Udah dong, masa belum
sih. Mama nggak mau semaput di kereta cuma gara – gara nggak makan lho ya.”
“hehehe beres dong, eh
ma… masakan mama terbaikkk deh!! So
delicious!!” rayuku sambil memeluk mama.
Aku harap kalimat tadi
bisa membuat mama bahagia walau hanya sebentar. Tetapi aku senang bisa melihat
mama tersenyum walau luka itu ibarat tombak yang menghujam hatinya sampai
hatinya tak berbentuk lagi.
“Kereta Argo Bromo tujuan
akhir Stasiun Pasar Turi Surabaya akan segera tiba, dimohon penumpang
mempersiapkan diri.” Pengeras suara berbunyi..
Mama dan aku duduk di
bangku 24 A dan B, dan mendapat gerbong 3.Aku langsunh membenahi koper serta
barang bawaan yang lain. AC disini cukup dingin dan berhasil membuatku
kedinginan. Aku segera mengambil jaket hitamku hadiah dari mama ketika aku
memenangkan lomba Speech Contest tingkat provinsi tahun lalu.
Aku sangan menikmati
pemandangan, banyak pohon – pohon menari, burung – burung bernyanyi walau aku
tak bisa mendengarnya.
Mama sudah terlelap tidur
mungkin karena kecapekan dan banyak pikiran. Laa Haula Walaa Quwwata Illa
Billah, berdzikirlah itu jika kau benar – benar terkubur dalam lukamu.
❤❤❤❤
Akhirnya sampai juga,
setelah 10 jam duduk dalam keadaan bosan yang amat teramat. Kini aku telah
menginjakka kaki di kota pahlawan!!!
Kata mama, setelah ini
kita akan naik taksi menuju rumah nenek.
Mama menyodorkan secarik
kertas bertuliskan alamat “Jalan Dewi Sartika 124, RT 09/ RW 10. Dan pak supir
pun langsung paham dengan alamat ini. Alkhamdulillah, lagi – lagi aku bersyukur
Engkau telah mempermudah jalan hamba untuk menyelesaikan masalah yang rumitnya
bukan main ini.
Sesampainya di rumah
nenek, kita disambut dengan baik. Mama akhirnya berterus terang kepada nenek
dam Engkong apa yang terjadi kepada kami serta apa yang dilakukan papa sehingga
membuat mama kecewa. Nenek langsung menelpon papa agar papa cepat ke Surabaya
“Masalah harta warisan
memang bunda kasih paling banyak ya untuk Ferdi, suamimu. Tetapi, mama tidak
pernah sekalipun menyuruh Ferdi untuk mengatakan kepada kamu bahwa kamu harus
pindah agama. Itu salah besar!!” ujar nenek sambil merajut di atas kursi
goyangnya
“Tapi bun, mas Ferdi
selingkuh di depan mata anakku ini, dia bersama.wanita lain yang bukan
mukhrimnya. Aku sangat sakit hati, tetapi aku ini pernikahan kami tetap utuh.”
Jawab mama.
“Sudah nanti, kita
selesaikan bersa nanti malam. Kalian istirahat dulu saja. Kasian cucu nenek
terlali capek.
Adzan maghrib
berkumandang, aku dan mama bergegas melaksanakan salat maghrib. Rupanya, papa
sudah datang dan membawa tante Alena adik kandung papa. Tante Alena,
merupakan tante yang paling baik. Mama
selalu cerita bahwa jaman dulu, tante Alena suka membantu keluarga mama dan
papa ketika masih dalam keadaan susah.
Suasana semakin
menenegang ketika papa belum saja mengakui apa yang diperbuat. Om Rino telah
memiliki bukti – bukti perselingkuhan papa, namun mama selalu memohon agar
tidak terjadinya perceraian. Mama selalu ingin seperti Khadijah istri
Rasulullah yang selalu patuh pada suaminya.
“Sekarang mau bagaimana
Mas? Aku tidak ingin rumah tangga kita berantakan.” Ujar mama sambil menitikkan
air matanya
“Maafkan aku, Annisa. Aku
khilaf, aku mengakui segalanya. Ya aku selingkuh dengan wanita lain, aku juga
mengada – ada tentang hal pindah agamamu itu. Semua itu aku lakukan untuk
bisnisku. Omset bisnisku sedang merosot dan hampir saja bangkrut.” Jelas papa
sambil memgang tangan mama.
Aku hanya menyimak
semuanya, aku duduk di samping nenek. Nenek pun ikut menambahi pembicaraan itu.
“Jadi semua itu hanya
pura – pura demi bisnismu itu! Kenapa kamu tidak terus terang saja pada ibu?
Kalau kami terus terang ibu akan membantumu!” ujar nenek dengan nada tinggi.
“Saya berjanji bu saya
tidak akan mengulangi lagi, aku berjanji sayang aku tidak akan mengulangi lagi.
Aku akan belajar menjadi suami yang baik, yang bisa bertanggung jawab kepada
keluarga seperti apa yang diceritakan Maryam tentang Rasulullah. Aku akan
bertaubat.” Jelas papa sambil menangis.
Alkhamdulillah Ya Allah.
Engkau benar – benar Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Setelah semua masalah itu
selesai, perlahan papa mulai mengubah siklus hidupnya. Papa mau mengerjakan
salat lima waktu dengan bantuan mama. Papa sudah mau bersyukur dengan apa yang
kita punya. Dan nenek tetap saja menjadi pihak netral dan masih memeluk agama
konghucu.
Malam ini, kita bertiga
berpamitan pada nenek untuk kembali pulang ke Jakarta. Karena, sebentar lagi
akan ada Ujian Nasional. Jadi, aku harus belajar dan mengikuti jam tambahan di
sekolah.
“Nek kami pulang dulu ya.
Kan Maryam mau ada ujian. Nanti, kalo ujiannya sudah selesai Maryam bisa
liburan di Surabaya.” Ujarku sambil mencium tangan nenek.
Karena Engkong sedang
sakit, dan hanya terbaring di tempat tidur. Untung saja ada tante Alena yang
merawatnya. Memang dari dulu papa.sudah banting tulang untuk menghidupi kakak
dan adiknya.
“Iya sayang, cucu nenek
yang satu ini harus jadi orang sukses. Harus bisa dapat beasiswa ke luar
negeri.” Jawab nenek dengan senyum harunya.
“Doakan saja yang terbaik
nek, ya sudah nek papa dan mama sudah menunggu di mobil. Maryam pulang dulu
nek….” Aku mencium pipi nenek.
“Hati – hati sayang.”
Nenek adalah orang yang
sangat baik. Mau menerima perbedaan walau pada awalnya hatinya masih keras
untuk menerima semua itu. Tapi seiring berjalannya waktu, ibarat batu di lautan
jika terkena ombak lama – kelamaan akan terkikis juga. Karena, mama juga adalah
menantu yang baik. Nenek juga akhirnya sayang pada mama.
Perbedaan di keluarga ini
memang benar – benar signifikan. Namun, semuanya bisa menjadi satu. Tante
Netris, dia orang batak istri dari om
Rino
Rino nasibnya pun hampir
sama dengan mama, awalnya beliau tidak disukai namun pada akhirnya bisa bersatu
juga.
Surabaya, kau berhasil
membuat air mataku keluar dengan deras. Mengukir sejarah dalam hidupku,
menegaskan kembali bahwa berbeda bukanlah kekurangan ataupun keburukan.
Perbedaan itu indah.
Setiap hari natal semua
keluarga kumpul untuk merayakannya. Tetapi, aku dan mama hanya hadir saja, cici
Gabrielle, cici Natalie, cici Novaline, koko (sebutan kakak laki – laki) Anes,
koko Septian, koko Yudha, Samuel, dan Vallerie semuanya berkumpul dan saling
tukar kado. Aku pun dapat jatah kado natal. Jika hari imlek tiba, semuanya pun
kumpul dan akan ada acara panen angpao!! Sangat seru.. Tak kalah serunya saat
Idul Fitri dan Idul Adha.
Semua keluarga yang ada di Surabaya akan
mengunjungi rumahku. Keluarga dari mama pun akan hadir di sana. Jika malam
takbiran tiba akan ada pesta kembang api.
Aku sangat beruntung
hidup di keluarga yang seperti ini, mereka sangat bertoleransi. Mereka sangat
peduli dengan sesama.
Tiba- tiba ponselku
berdering, gernyata ada panggilan masuk dari Ainun. Timben nih anak nelpon aku.
Apa ada tugas penting ya?
“Hallo Assalamu’alaikum
Nun?”
“Wa’alaikumsalam
Maryam..”
“Ada apa Nun, tumben
banget kamu telpon aku? Ada tugas ya?” ujarku.
“Ini Mar, Cuma mau
ngabarin aja besok sudah mulai jam tambahan. Kamu kan ambil biologi buat
peminatannya. Nah, kamu dapat kelas biologi 4, dan good news nya kamu sekelasa sama aku, Rahman, sama si tuyul Dika.
Hahaha..” jelas Ainun sambil tertawa.
“Serius kamu Nun, hahah
yang bagi kelas peka bener deh. Bisa nyatuin kita dalam satu kelas.” Aku
terbahak – bahak, jujur ini kabar baik banget bagiku.
“Ya sudah Mar, ini sudah
jam 9 aku ngantuk. Sampai jumpa besok pagi, Assalamu’alaikum.”
“Thanks infonya. Wa’alaikumsalam Nun, semoga mimpi indah ya.”
❤❤❤❤
Bel masuk pun berbunyi,
jam tambahan memang dimulai pagi hari, hiruk pikuk keadaan di sini membuatku
jenuh. Jam tambahan hari ini diisi dengan mata pelajaran matematika. Ah,
membosankan…
“Eh Mar, kamu tau nggak?”
tanya Ainun sambil memainkan pulpennya.
“Emang ada apa Nun?
Cerita dooong” rayuku sambil memasang raut memelas.
“Dika udah berubah lho..
Kemarin, kamu kan nggak masuk tuh. Dia kan nganterin surat ke aekretaris tuh..
Terus teman –teman mengira kamu sama Dika jadian. Tapi, dia menepis itu semua.
Bahwa semuanya tidak lebih dari sekedar sahabat. Terus khir – akhir entah kenapa dia jadi pendiam banget tau Mar.
Dia juga udah mau pergi ke musholah buat ngelaksanakan salat. Emang sih aku
sama Rahman selalu ngingetin pas kamu nggak masuk.” Cerocos Ainun dengan
serius.
Tiba – tiba pak Surya
menegur.
“Mbak, kamu! Iya kamu
jangan mengobrol terus!” ujarnya.
“Maaf pak..” sahut Ainun
“coba kamu ulangi apa
yang tadi saya jelaskan!”
“Nilai modus dapat dicari
dengan cara…..” Ainun mulai menjelaskan.. Aku, Rahman, dan Dika terkekeh kecil.
Untung aja kamu pandai eksak Nun, kalo nggak bisa skak matt.
❤❤❤❤
Jam pertama dimulai
setelah jam tambahan, jam pertama dimulai dengan mata pelajaran olahraga. Dan
sub bab nya adalah “B A S K E T” yapss my
favorite lesson. Pak Wayan membagi kelompok untuk diadu. Kebetulan aku dan
Dika satu kelompok, dan kita akan bertarung melawan kelompok Ainun.
“Ya, kalian bisa pilih
leadernya. Masing – masing leader bisa mengondisikan teamnya. Pertandingan akan
dimulai 15 menit lagi. Kalian bisa memanfaatkan waktu untuk latihan. Bapak
tinggal dulu sebentar karena sudah ditunggu tamu.” Jelas pak Wayan.
“Siap pak!!” teman –
teman menjawab serentak.
“Mar, kamu nanti jadi
center ya.. Aku jadi guard shoot. Nanti yang lain ngikut aja fleksibel.” Dika
mencoba menjelaskan.
“Siap!!” ujarku
“Yukk latihan.dulu..
Keburu time off.”
Setelah menunggu waktu
main. Akhirnya pak.Wayan datang juga. Pertandingan segera dimulai. Pertandingan
ini bertujuan untuk.mengambil nilai ujian praktek.
“2 – 1” ujar pak Wayan
“Mar! Pass ke Ujang
bolanya” teriak Dika.
“Iya Dik,” aku pun
mengoper bolanya ke Ujang.
Ainun rupanya mulai
kelelahan. Kerudungnya basah karena keringat, dan memang walaupun mendung.
Tetapi, olahraga ini melelahkan juga.
Pertandingan berakhir
dengan point 15 – 10 dan pemenangnya adalah Tim Dika!!! Yeyyy.. Kali ini pak
Wayan memberi hadiah makan soto gratis di kantin. Untuk yang kalah maupun yang
menang. Pak Wayan adalah orang Bali, baik hati, dan merupakan guru
favorit.kelasku.
❤❤❤❤
Tak terasa, waktu cepat
berlalu. Dua hari lagi akan ada ujian SNMPTN. Universitas yang aku pilih adalah
Universitas Indonesia, dengan jurusan Farmasi. Dan Dika memilih Institut
Teknologi Bandung. Hubungan aku dan dika terasa semakin jauh setelah kita fokus
untuk masa depan kita.
Ainun memilih UIN Syarif
Hidayatulloh Jakarta mengambil.Kimia Murni. Rahman mengambil Universitas seni
ternama di Jakarta dan dia mengambil fotografi. Semuanya berlalu begitu cepat
seperti kedipan mata.
Pulang sekolah ini Dika
mengajakku untuk mengantarnya ke toko Gitar, di pusat kota.
“Mar, lo mau nggak
anterin gue buat beli gitar di Slazh Guitar's?” tanya Dika
“Hmm gimana ya?” aku
berpura – pura bingung. Padahal mah aku mau banget, toh perasaan aku nggak
bakal berubah Dik.
“Ayo dong, kamu juga kam
bisa main gitar. Nanti pulangnya makan deh di Mc. D” Dia mencoba merayu.
“Boleh boleh, tapi
beneranakan yaa😂”
“Giliran makan aja
semangat! Haha doyan makan tapi nggak gendut gendut badanmu itu, Cuma pipi yang
makin bengkak” ledek Dika sambil menjulurkan lidahnya.
“Yey, nggak papa dong.
Kamu mah sirik aja sih” ujarku sambil menjulurkan lidah juga.
“Yaudah jangan pulang
dulu. Nanti bareng aku aja, hari ini aku bawa mobil.”
“Siap Mahardika!!!”
Tiba – tiba si Ainun
muncul sambil ketawa – ketawa nggak jelas. Kadang dia suka keluar gaje nya.
“Maaarr, gue seneng
bangett. Lo tau ngga? Ada kabar baik. Ada program beasiswa ke UK dan Korea.
Tadi gue habis dipanggil bu Tari buat nginfoin ini ke temen – temen.”Ujarnya
sambil tertawa bahagia.
“Oh ya? Aku minat banget
nih buat ke UK. Apalagi di Oxford. Jurusannya nggak jauh – jauh dari life
sciences and medicine.”
“Ayo nanti kita konsul
sama bu Tari saja pulang sekolah.” Ajakn Ainun
“Hah pulsek? Haduhh Nun
nggak bisa besok aja? Pulang ini aku mau anter Dika beli gitar nih.”
“Ya sudan nanti aku
kabarin kamu deh.”
❤❤❤❤
Bel pulang berbunyi nyaring,
kebahagiaan yang dinanti para siswa. Dika rupanya sedang mengambil mobilnya di
parkiran. Ainun sudah pulang duluan menggunakan jasa pak Made. Rahman, akhir –
akhir ini jarang mengobrol. Mungkin, karena sibuk mengurus persyaratan daftar
kuliah.
“Mar ayo cepat sini, nanti keburu
jalanan Jakarta macet.” Ujar dika dari balik jendela mobil
“Iya Dik sorry aku ngelamun tadi.”
Kali ini senja tidak muncul, sinarnya
terlahap habis oleh mendung. Gumpalan awan hitam itu semakin menebal. Aku harap
akan turun hujan. Dika masih menikmati perjalanan, aku pun demikian.
Macet menjebak kita, di jalanan. Jam
menunjukka pukul 17.45 WIB. Sebentar
lagi akan berkumandang adzan maghrib. Dika meminta kepadaku untuk rest di
masjid terdekat untuk salat terlebih dahulu.
“Mar, kita berhenti dulu ya.. Kan
sebentar lagi adzan.” Ujarnya sambil tersenyum manis
“Iya Dik, aku juga mau bilang gitu.
Eh, udah keduluan kamu yang bilang.” Aku tertawa kecil.
Alkhamdulillah, lagi – lagi aku
sangat bersyukur ketika Dika sudah mulai berubah. Semoga Engkau
mengistiqomahkan hatinya. Hujan tak lama pun turun. Allahumma Soyibban
Naafiaan, ucapku dalam hati. Semoga Engkau turunkan hujan sebagai berkah.
Adzan maghrib berkumandang, sesegera
mungkin aku mengambil air wudhuh begitu pun dengan Dika. Setelah 3 rakaat telah
dijalani. Aku dan Dika kembali menuju toko Gitar itu. Hujan memang deras,
untung saja tidak ada petir.
“Aku dengar kamu mau lanjut study ke
luar negeri Mar?” tiba – tiba suara beratnya memecah keheningan.
“Insyaallah Dik, kalo diijinin sama
mama papa.” Ujarku
“Kalo begitu harapanki hilang dong.”
Ucap Dika sambil melirik ke arahku.
Aku masih bingung dengan apa yang
Dika ucapkan itu.
“Maksud kamu?” aku bertanya dengan
polosnya.
“Ah.. Sudah abaikan saja Mar. Bentar
lagi sampai, nih kamu pakai jaketku. Masih hujan soalnya” Dika menyodorkan
jaket jeansnya.
“Terimakasih, tapi kamu nanti
kehujanan?”
“Cowok mah STROONG!!” Ujarnya sambil
tertawa.
“Halah kamu mah so strong!” timpalku
sambil tertawa juga.
Jaket, hangaatt. Aku senang bisa
sedekat ini dengan Dika. Namun, ucapannya masih membuatku penasaran. Gitar
disini bagus – bagus. Rupanya Dika memilih gitar berwarna biru dongker.. Ya
memang dia pecinta warna biru. Mulai dari case hp, cat rumah, topi, dan yang
lainnya.
Tiba – tiba dia menyenggol bahuku.
“Aduhh..” rintihku, padahal mah Cuma
kaget.
“Bagus nggak gitarnya? Keren kan kaya
yang punya” ujar Dika sambil menatap mataku.
“Ih, keren juga gitarnya daripada
yang punya.”
Setelah membayar di kasir. Aku dan
Dika melanjutkan perjalana ke salah satu
restoran cepat saji yang namanya sudah melambung. Kali ini aku dan Dika menuju
ke mall Kota Casablanca.
“Nah, sudah sampai. Ayo turun,
hujannya sudah reda. Pasti cacing – cacing yang ada di perutmu itu sudah nggak
tahan.” Ucapnya sambil mengambil tas ranselnya yang ada di jok belakang.
“Iya kamu mah peka banget ya..” aku
sedikit menggodanya untuk segera masuk.
“Ayo, kamu turun duluan nanti aku
nyusul.” Pintanya.
Aku pun turun, Dika sedang
memarkirkan mobilnya. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya aku dan Dika
menuju restoran itu. Dika memesan dua buah burger jumbo dan soda serta nasi
ayam. Tak lupa dia juga membeli ice cream.
“Masya Allah sebanyak ini
makanannya?” aku terkejut dan sempat menahan napas.
“Ya, kita habiskan.. Oh ya, nanti
pulang ini kita mampir ke toko donat ya.”
“Oke deh aku mah siap aja, lagian
kamu pesen makanan sebanyak ini emangnya buat arisan apa ya..” aku tertawa
“Udah pokoknya kamu habisin
semuanya.”
“Kamu pimpin doanya ya.” Pintaku.
“Oke”
Bismillahir rahmaanir rahiim, Allahumma
bariklana fimaa razaktanaa wakinaa adzabanaar. Aamiin”
Setelah makan dan puas bercanda serta
menemani Dika belanja. Aku pun diantar pulang. Jaket Dika masih aku pakai,
“Jaket itu di kamu dulu aja. Nanti
kembaliinnya besok atau lusa.” Ujarnya
“Yasudah lagian juga mau aku cuci
dulu kan basah.”
“Oke, aku pulang dulu ya udah malam,
angin pantai dingin juga ya.. Assalamu’alaikum Maryam.” Ucapnya sambil
melambaikan tangan
“Wa’alaikumsalam Dika, hati – hati
jangan ngebut.”
Tiba – tiba dari belakang papa dan
mama mengagetkanku.
“Ciee habis diantar calon mantu papa
nih.” Goda papa sambil mengusap kepalaku yang dibalut jilbab basah
“Nggak kerasa pa, anak kita udah
gede. Udab tau yang namanya cowok ganteng.” Mama terkekeh sambil merangkulku.
“ma, pa.. Dika cuma sahabatku. Dan ya
begitu..” jelasku.
“Yasudah ayo masuk, baju kamu basah
kuyup. Nanti mama yang cuci jaket Dika.”
“Ehh jangan ma, biar Maryam aja.. Kan
Maryam yang pakai.” Cegatku
“Giliran jaket pujaan hati mah kamu
yang cuci, tapi giliran baju sendiri.. Nunggu sampai 4 hari baru mau nyuci.”
“Hahaha mama mah sukanya ngeledek
aku.”
❤❤❤❤
Hari yang kunanti tiba, Ujian SNMPTN
telah ku lalui. Sekarang waktunya berperang menghadapi Ujian Nasional.
Sekolahku memang sekolah favorit dan mempunyai segala macam.fasilitas yang sangat
memadai. UNBK kali ini aku mendapat nomor kursi 24, dan Dika mendapat nomor
kursi 23. 2 jam berlalu cukup mudah, Bahasa Indonesia memang bidangku. Asalkan
teliti dalam mengerjakannya.
Alkhamdulillah, selesai juga. Masih
sisa 3 hari lagi.
“Nun, balik bareng yuk. Aku mau cari
buku TOEFL nih.. Kita mampir ke toko buku.”
“Boleh Mar, tapi bayarin aku ice
cream yaa.. Btw sekalian aku mau beli buku tafsir hadist nih sama kamus bahasa
arab buat bekalku di UIN.” Ujar Ainun dengan semangat.
“Siap deh CAMABA (Calon Mahasiswa
Baru). Oh ya kamu masih ingat nggak sama lomba desain baju muslim?”
“hmm iya iya ingaaat…” Ainun memcoba
mengingat – ingat kembali
“Aku menang Nun, tadi malam aku
ditelpon sama perusahaannya dan desain bajuku akan dibuat oleh desainer ternama.
Dan bakal dipamerkan di Singapura.” Ujarku
“Alkhamdulillah.. Ada untungnya juga
pas itu kamu pulang pake bus umum.”
“Iya Nun, hadiahnya lumayan bisa buat
nambah – nambah biaya hidup di UK.” Jelasku
Aku dan Ainun berjalan kaki menyusuri
trotoar ibu kota. Cukup padat kendaraan hari ini. Besok adalah pengumuman tesku
di Oxford University. Aku semakin deg – degan. Kampuan berbahasa Inggris ku
terilang lumayan.
Sampai juga, aku segera membeli buku
– buku penunjang belajarku untuk masuk ke Oxford University. Ainun masih
berkutat dengan pilihan bukunya.
Setelah selesai belanja. Aku mengajak
Ainun ke kedai Ice Cream terdekat. Ainun memilih ice cream red velvet dan
vanila. Sedangkan aku vanila dan matcha. Suasana kota yang ramai cocok menjadi
tontonan kita saat bersantai. Hilir mudik mobil berlalu lalang. Ruangan kedai
ini ber AC sehingga sangat membuatku nyaman. Dan aku akan merindukan saat –
saat seperti ini bersama Ainun.

EmoticonEmoticon