Selasa, 26 Maret 2019

Cerita Islami - Different - Bagian 4 Tears in Surabaya

Different
(Karya : Marta Sulistia)

Cerita Islami


Bagian 4
Tears in Surabaya
Fajar telah tiba, sinarnya terasa hangat. Setelah menunaikan kewajiban dan segala keperluan untuk aku bawa ke Surabaya. Kereta berangkat jam 8.30 WIB, butuh waktu satu jam untuk menuju ke stasiun. Jalanan kota masih lengang. Pepohonan di jalan masih asik menari dengan eloknya mengikuti arah angin. Mataku masih terasa berat setelah berjam – jam menangis.
“Nak, ayo kita berangkat. Sebentar lagi taksinya sampai. Kamu bawa koper merahnya nanti mama bawa oleh – oleh untuk nenek kamu.” Ujar mama sambil memakai jaket merah hadiah anniversary pernikahan mama dan papa yang ke 19.
“Siap ibu negara!!” jawabku dengan penuh semangat.
Tak sampai seperempat jam, taksi pun tiba. Rasa sesak dalam dada masih sangat terasa. Mungkin mama juga merasakanny bahkan lebih perih dan menyakitkan dari apa yang kurasa. Aku memilih kursi di belakang, mama memilih kursi di bagian depan bersama pak supir. Bantal leher sudah stand by.
Pagi ini cukup cerah, namun hatiku tak secerah itu. Bahkan semalam berhasil diporak – porandakan oleh badai masalah. Kacau sudah, aku kira papa tidak akan memberikan sedikitpun luka pada mama maupun aku. Namun, yang aku pikirkan salah kaprah.
Satu jam berlalu, jam tanganku menunjukkan pukul 7.45 WIB. Tandanya masih ada sisa waktu untuk aku sarapan. Kali ini mama masak makanan kesukaanku, yupss omelet mozzarella.
“Makan yang kenyang, kan kita ke Surabaya butuh waktu 10 jam.” Jelas mama sambil merapikan jilbabku.
“Iya ma… memangnya mama udah sarapan?” ujarku dengan wajah polos
“Udah dong, masa belum sih. Mama nggak mau semaput di kereta cuma gara – gara nggak makan lho ya.”
“hehehe beres dong, eh ma… masakan mama terbaikkk deh!! So delicious!!” rayuku sambil memeluk mama.
Aku harap kalimat tadi bisa membuat mama bahagia walau hanya sebentar. Tetapi aku senang bisa melihat mama tersenyum walau luka itu ibarat tombak yang menghujam hatinya sampai hatinya tak berbentuk lagi.
“Kereta Argo Bromo tujuan akhir Stasiun Pasar Turi Surabaya akan segera tiba, dimohon penumpang mempersiapkan diri.” Pengeras suara berbunyi..
Mama dan aku duduk di bangku 24 A dan B, dan mendapat gerbong 3.Aku langsunh membenahi koper serta barang bawaan yang lain. AC disini cukup dingin dan berhasil membuatku kedinginan. Aku segera mengambil jaket hitamku hadiah dari mama ketika aku memenangkan lomba Speech Contest tingkat provinsi tahun lalu.
Aku sangan menikmati pemandangan, banyak pohon – pohon menari, burung – burung bernyanyi walau aku tak bisa mendengarnya.
Mama sudah terlelap tidur mungkin karena kecapekan dan banyak pikiran. Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah, berdzikirlah itu jika kau benar – benar terkubur dalam lukamu.

❤❤❤❤

Akhirnya sampai juga, setelah 10 jam duduk dalam keadaan bosan yang amat teramat. Kini aku telah menginjakka  kaki di kota pahlawan!!!
Kata mama, setelah ini kita akan naik taksi menuju rumah nenek.
Mama menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat “Jalan Dewi Sartika 124, RT 09/ RW 10. Dan pak supir pun langsung paham dengan alamat ini. Alkhamdulillah, lagi – lagi aku bersyukur Engkau telah mempermudah jalan hamba untuk menyelesaikan masalah yang rumitnya bukan main ini.
Sesampainya di rumah nenek, kita disambut dengan baik. Mama akhirnya berterus terang kepada nenek dam Engkong apa yang terjadi kepada kami serta apa yang dilakukan papa sehingga membuat mama kecewa. Nenek langsung menelpon papa agar papa cepat ke Surabaya
“Masalah harta warisan memang bunda kasih paling banyak ya untuk Ferdi, suamimu. Tetapi, mama tidak pernah sekalipun menyuruh Ferdi untuk mengatakan kepada kamu bahwa kamu harus pindah agama. Itu salah besar!!” ujar nenek sambil merajut di atas kursi goyangnya
“Tapi bun, mas Ferdi selingkuh di depan mata anakku ini, dia bersama.wanita lain yang bukan mukhrimnya. Aku sangat sakit hati, tetapi aku ini pernikahan kami tetap utuh.” Jawab mama.
“Sudah nanti, kita selesaikan bersa nanti malam. Kalian istirahat dulu saja. Kasian cucu nenek terlali capek.

Adzan maghrib berkumandang, aku dan mama bergegas melaksanakan salat maghrib. Rupanya, papa sudah datang dan membawa tante Alena adik kandung papa. Tante Alena,
merupakan tante yang paling baik. Mama selalu cerita bahwa jaman dulu, tante Alena suka membantu keluarga mama dan papa ketika masih dalam keadaan susah.

Suasana semakin menenegang ketika papa belum saja mengakui apa yang diperbuat. Om Rino telah memiliki bukti – bukti perselingkuhan papa, namun mama selalu memohon agar tidak terjadinya perceraian. Mama selalu ingin seperti Khadijah istri Rasulullah yang selalu patuh pada suaminya.

“Sekarang mau bagaimana Mas? Aku tidak ingin rumah tangga kita berantakan.” Ujar mama sambil menitikkan air matanya
“Maafkan aku, Annisa. Aku khilaf, aku mengakui segalanya. Ya aku selingkuh dengan wanita lain, aku juga mengada – ada tentang hal pindah agamamu itu. Semua itu aku lakukan untuk bisnisku. Omset bisnisku sedang merosot dan hampir saja bangkrut.” Jelas papa sambil memgang tangan mama.
Aku hanya menyimak semuanya, aku duduk di samping nenek. Nenek pun ikut menambahi pembicaraan itu.
“Jadi semua itu hanya pura – pura demi bisnismu itu! Kenapa kamu tidak terus terang saja pada ibu? Kalau kami terus terang ibu akan membantumu!” ujar nenek dengan nada tinggi.
“Saya berjanji bu saya tidak akan mengulangi lagi, aku berjanji sayang aku tidak akan mengulangi lagi. Aku akan belajar menjadi suami yang baik, yang bisa bertanggung jawab kepada keluarga seperti apa yang diceritakan Maryam tentang Rasulullah. Aku akan bertaubat.” Jelas papa sambil menangis.
Alkhamdulillah Ya Allah. Engkau benar – benar Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Setelah semua masalah itu selesai, perlahan papa mulai mengubah siklus hidupnya. Papa mau mengerjakan salat lima waktu dengan bantuan mama. Papa sudah mau bersyukur dengan apa yang kita punya. Dan nenek tetap saja menjadi pihak netral dan masih memeluk agama konghucu.

                                                                                                                                                                                                                                                                                   




Malam ini, kita bertiga berpamitan pada nenek untuk kembali pulang ke Jakarta. Karena, sebentar lagi akan ada Ujian Nasional. Jadi, aku harus belajar dan mengikuti jam tambahan di sekolah.
“Nek kami pulang dulu ya. Kan Maryam mau ada ujian. Nanti, kalo ujiannya sudah selesai Maryam bisa liburan di Surabaya.” Ujarku sambil mencium tangan nenek.
Karena Engkong sedang sakit, dan hanya terbaring di tempat tidur. Untung saja ada tante Alena yang merawatnya. Memang dari dulu papa.sudah banting tulang untuk menghidupi kakak dan adiknya.
“Iya sayang, cucu nenek yang satu ini harus jadi orang sukses. Harus bisa dapat beasiswa ke luar negeri.” Jawab nenek dengan senyum harunya.
“Doakan saja yang terbaik nek, ya sudah nek papa dan mama sudah menunggu di mobil. Maryam pulang dulu nek….” Aku mencium pipi nenek.
“Hati – hati sayang.”

Nenek adalah orang yang sangat baik. Mau menerima perbedaan walau pada awalnya hatinya masih keras untuk menerima semua itu. Tapi seiring berjalannya waktu, ibarat batu di lautan jika terkena ombak lama – kelamaan akan terkikis juga. Karena, mama juga adalah menantu yang baik. Nenek juga akhirnya sayang pada mama.
Perbedaan di keluarga ini memang benar – benar signifikan. Namun, semuanya bisa menjadi satu. Tante Netris, dia orang batak istri dari om  Rino
Rino nasibnya pun hampir sama dengan mama, awalnya beliau tidak disukai namun pada akhirnya bisa bersatu juga.

Surabaya, kau berhasil membuat air mataku keluar dengan deras. Mengukir sejarah dalam hidupku, menegaskan kembali bahwa berbeda bukanlah kekurangan ataupun keburukan. Perbedaan itu indah.

Setiap hari natal semua keluarga kumpul untuk merayakannya. Tetapi, aku dan mama hanya hadir saja, cici Gabrielle, cici Natalie, cici Novaline, koko (sebutan kakak laki – laki) Anes, koko Septian, koko Yudha, Samuel, dan Vallerie semuanya berkumpul dan saling tukar kado. Aku pun dapat jatah kado natal. Jika hari imlek tiba, semuanya pun kumpul dan akan ada acara panen angpao!! Sangat seru.. Tak kalah serunya saat Idul Fitri dan Idul Adha.


Semua keluarga yang ada di Surabaya akan mengunjungi rumahku. Keluarga dari mama pun akan hadir di sana. Jika malam takbiran tiba akan ada pesta kembang api.

Aku sangat beruntung hidup di keluarga yang seperti ini, mereka sangat bertoleransi. Mereka sangat peduli dengan sesama.
Tiba- tiba ponselku berdering, gernyata ada panggilan masuk dari Ainun. Timben nih anak nelpon aku. Apa ada tugas penting ya?
“Hallo Assalamu’alaikum Nun?”
“Wa’alaikumsalam Maryam..”
“Ada apa Nun, tumben banget kamu telpon aku? Ada tugas ya?” ujarku.
“Ini Mar, Cuma mau ngabarin aja besok sudah mulai jam tambahan. Kamu kan ambil biologi buat peminatannya. Nah, kamu dapat kelas biologi 4, dan good news nya kamu sekelasa sama aku, Rahman, sama si tuyul Dika. Hahaha..” jelas Ainun sambil tertawa.
“Serius kamu Nun, hahah yang bagi kelas peka bener deh. Bisa nyatuin kita dalam satu kelas.” Aku terbahak – bahak, jujur ini kabar baik banget bagiku.
“Ya sudah Mar, ini sudah jam 9 aku ngantuk. Sampai jumpa besok pagi, Assalamu’alaikum.”
Thanks infonya. Wa’alaikumsalam Nun, semoga mimpi indah ya.”

❤❤❤❤

Bel masuk pun berbunyi, jam tambahan memang dimulai pagi hari, hiruk pikuk keadaan di sini membuatku jenuh. Jam tambahan hari ini diisi dengan mata pelajaran matematika. Ah, membosankan…
“Eh Mar, kamu tau nggak?” tanya Ainun sambil memainkan pulpennya.
“Emang ada apa Nun? Cerita dooong” rayuku sambil memasang raut memelas.
“Dika udah berubah lho.. Kemarin, kamu kan nggak masuk tuh. Dia kan nganterin surat ke aekretaris tuh.. Terus teman –teman mengira kamu sama Dika jadian. Tapi, dia menepis itu semua. Bahwa semuanya tidak lebih dari sekedar sahabat. Terus khir – akhir  entah kenapa dia jadi pendiam banget tau Mar. Dia juga udah mau pergi ke musholah buat ngelaksanakan salat. Emang sih aku sama Rahman selalu ngingetin pas kamu nggak masuk.” Cerocos Ainun dengan serius.
Tiba – tiba pak Surya menegur.
“Mbak, kamu! Iya kamu jangan mengobrol terus!” ujarnya.
“Maaf pak..” sahut Ainun
“coba kamu ulangi apa yang tadi saya jelaskan!”
“Nilai modus dapat dicari dengan cara…..” Ainun mulai menjelaskan.. Aku, Rahman, dan Dika terkekeh kecil. Untung aja kamu pandai eksak Nun, kalo nggak bisa skak matt.

❤❤❤❤

Jam pertama dimulai setelah jam tambahan, jam pertama dimulai dengan mata pelajaran olahraga. Dan sub bab nya adalah “B A S K E T” yapss my favorite lesson. Pak Wayan membagi kelompok untuk diadu. Kebetulan aku dan Dika satu kelompok, dan kita akan bertarung melawan kelompok Ainun.
“Ya, kalian bisa pilih leadernya. Masing – masing leader bisa mengondisikan teamnya. Pertandingan akan dimulai 15 menit lagi. Kalian bisa memanfaatkan waktu untuk latihan. Bapak tinggal dulu sebentar karena sudah ditunggu tamu.” Jelas pak Wayan.
“Siap pak!!” teman – teman menjawab serentak.

“Mar, kamu nanti jadi center ya.. Aku jadi guard shoot. Nanti yang lain ngikut aja fleksibel.” Dika mencoba menjelaskan.
“Siap!!” ujarku
“Yukk latihan.dulu.. Keburu time off.”
Setelah menunggu waktu main. Akhirnya pak.Wayan datang juga. Pertandingan segera dimulai. Pertandingan ini bertujuan untuk.mengambil nilai ujian praktek.
“2 – 1” ujar pak Wayan

“Mar! Pass ke Ujang bolanya” teriak Dika.
“Iya Dik,” aku pun mengoper bolanya ke Ujang.
Ainun rupanya mulai kelelahan. Kerudungnya basah karena keringat, dan memang walaupun mendung. Tetapi, olahraga ini melelahkan juga.
Pertandingan berakhir dengan point 15 – 10 dan pemenangnya adalah Tim Dika!!! Yeyyy.. Kali ini pak Wayan memberi hadiah makan soto gratis di kantin. Untuk yang kalah maupun yang menang. Pak Wayan adalah orang Bali, baik hati, dan merupakan guru favorit.kelasku.

❤❤❤❤

Tak terasa, waktu cepat berlalu. Dua hari lagi akan ada ujian SNMPTN. Universitas yang aku pilih adalah Universitas Indonesia, dengan jurusan Farmasi. Dan Dika memilih Institut Teknologi Bandung. Hubungan aku dan dika terasa semakin jauh setelah kita fokus untuk masa depan kita.
Ainun memilih UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta mengambil.Kimia Murni. Rahman mengambil Universitas seni ternama di Jakarta dan dia mengambil fotografi. Semuanya berlalu begitu cepat seperti kedipan mata.
Pulang sekolah ini Dika mengajakku untuk mengantarnya ke toko Gitar, di pusat kota.
“Mar, lo mau nggak anterin gue buat beli gitar di Slazh Guitar's?” tanya Dika
“Hmm gimana ya?” aku berpura – pura bingung. Padahal mah aku mau banget, toh perasaan aku nggak bakal berubah Dik.
“Ayo dong, kamu juga kam bisa main gitar. Nanti pulangnya makan deh di Mc. D” Dia mencoba merayu.
“Boleh boleh, tapi beneranakan yaa😂
“Giliran makan aja semangat! Haha doyan makan tapi nggak gendut gendut badanmu itu, Cuma pipi yang makin bengkak” ledek Dika sambil menjulurkan lidahnya.
“Yey, nggak papa dong. Kamu mah sirik aja sih” ujarku sambil menjulurkan lidah juga.
“Yaudah jangan pulang dulu. Nanti bareng aku aja, hari ini aku bawa mobil.”
“Siap Mahardika!!!”
Tiba – tiba si Ainun muncul sambil ketawa – ketawa nggak jelas. Kadang dia suka keluar gaje nya.
“Maaarr, gue seneng bangett. Lo tau ngga? Ada kabar baik. Ada program beasiswa ke UK dan Korea. Tadi gue habis dipanggil bu Tari buat nginfoin ini ke temen – temen.”Ujarnya sambil tertawa bahagia.
“Oh ya? Aku minat banget nih buat ke UK. Apalagi di Oxford. Jurusannya nggak jauh – jauh dari life sciences and medicine.”
“Ayo nanti kita konsul sama bu Tari saja pulang sekolah.” Ajakn Ainun
“Hah pulsek? Haduhh Nun nggak bisa besok aja? Pulang ini aku mau anter Dika beli gitar nih.”
“Ya sudan nanti aku kabarin kamu deh.”


❤❤❤❤

Bel pulang berbunyi nyaring, kebahagiaan yang dinanti para siswa. Dika rupanya sedang mengambil mobilnya di parkiran. Ainun sudah pulang duluan menggunakan jasa pak Made. Rahman, akhir – akhir ini jarang mengobrol. Mungkin, karena sibuk mengurus persyaratan daftar kuliah.
“Mar ayo cepat sini, nanti keburu jalanan Jakarta macet.” Ujar dika dari balik jendela mobil
“Iya Dik sorry aku ngelamun tadi.”
Kali ini senja tidak muncul, sinarnya terlahap habis oleh mendung. Gumpalan awan hitam itu semakin menebal. Aku harap akan turun hujan. Dika masih menikmati perjalanan, aku pun demikian.
Macet menjebak kita, di jalanan. Jam menunjukka  pukul 17.45 WIB. Sebentar lagi akan berkumandang adzan maghrib. Dika meminta kepadaku untuk rest di masjid terdekat untuk salat terlebih dahulu.
“Mar, kita berhenti dulu ya.. Kan sebentar lagi adzan.” Ujarnya sambil tersenyum manis
“Iya Dik, aku juga mau bilang gitu. Eh, udah keduluan kamu yang bilang.” Aku tertawa kecil.
Alkhamdulillah, lagi – lagi aku sangat bersyukur ketika Dika sudah mulai berubah. Semoga Engkau mengistiqomahkan hatinya. Hujan tak lama pun turun. Allahumma Soyibban Naafiaan, ucapku dalam hati. Semoga Engkau turunkan hujan sebagai berkah.
Adzan maghrib berkumandang, sesegera mungkin aku mengambil air wudhuh begitu pun dengan Dika. Setelah 3 rakaat telah dijalani. Aku dan Dika kembali menuju toko Gitar itu. Hujan memang deras, untung saja tidak ada petir.
“Aku dengar kamu mau lanjut study ke luar negeri Mar?” tiba – tiba suara beratnya memecah keheningan.


“Insyaallah Dik, kalo diijinin sama mama papa.” Ujarku
“Kalo begitu harapanki hilang dong.” Ucap Dika sambil melirik ke arahku.
Aku masih bingung dengan apa yang Dika ucapkan itu.
“Maksud kamu?” aku bertanya dengan polosnya.
“Ah.. Sudah abaikan saja Mar. Bentar lagi sampai, nih kamu pakai jaketku. Masih hujan soalnya” Dika menyodorkan jaket jeansnya.
“Terimakasih, tapi kamu nanti kehujanan?”
“Cowok mah STROONG!!” Ujarnya sambil tertawa.
“Halah kamu mah so strong!” timpalku sambil tertawa juga.
Jaket, hangaatt. Aku senang bisa sedekat ini dengan Dika. Namun, ucapannya masih membuatku penasaran. Gitar disini bagus – bagus. Rupanya Dika memilih gitar berwarna biru dongker.. Ya memang dia pecinta warna biru. Mulai dari case hp, cat rumah, topi, dan yang lainnya.
Tiba – tiba dia menyenggol bahuku.
“Aduhh..” rintihku, padahal mah Cuma kaget.
“Bagus nggak gitarnya? Keren kan kaya yang punya” ujar Dika sambil menatap mataku.
“Ih, keren juga gitarnya daripada yang punya.”
Setelah membayar di kasir. Aku dan Dika melanjutkan perjalana  ke salah satu restoran cepat saji yang namanya sudah melambung. Kali ini aku dan Dika menuju ke mall Kota Casablanca.
“Nah, sudah sampai. Ayo turun, hujannya sudah reda. Pasti cacing – cacing yang ada di perutmu itu sudah nggak tahan.” Ucapnya sambil mengambil tas ranselnya yang ada di jok belakang.
“Iya kamu mah peka banget ya..” aku sedikit menggodanya untuk segera masuk.
“Ayo, kamu turun duluan nanti aku nyusul.” Pintanya.
Aku pun turun, Dika sedang memarkirkan mobilnya. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya aku dan Dika menuju restoran itu. Dika memesan dua buah burger jumbo dan soda serta nasi ayam. Tak lupa dia juga membeli ice cream.
“Masya Allah sebanyak ini makanannya?” aku terkejut dan sempat menahan napas.
“Ya, kita habiskan.. Oh ya, nanti pulang ini kita mampir ke toko donat ya.”
“Oke deh aku mah siap aja, lagian kamu pesen makanan sebanyak ini emangnya buat arisan apa ya..” aku tertawa
“Udah pokoknya kamu habisin semuanya.”
“Kamu pimpin doanya ya.” Pintaku.
“Oke”
 Bismillahir rahmaanir rahiim, Allahumma bariklana fimaa razaktanaa wakinaa adzabanaar. Aamiin”
Setelah makan dan puas bercanda serta menemani Dika belanja. Aku pun diantar pulang. Jaket Dika masih aku pakai,
“Jaket itu di kamu dulu aja. Nanti kembaliinnya besok atau lusa.” Ujarnya
“Yasudah lagian juga mau aku cuci dulu kan basah.”
“Oke, aku pulang dulu ya udah malam, angin pantai dingin juga ya.. Assalamu’alaikum Maryam.” Ucapnya sambil melambaikan tangan
“Wa’alaikumsalam Dika, hati – hati jangan ngebut.”
Tiba – tiba dari belakang papa dan mama mengagetkanku.
“Ciee habis diantar calon mantu papa nih.” Goda papa sambil mengusap kepalaku yang dibalut jilbab basah


“Nggak kerasa pa, anak kita udah gede. Udab tau yang namanya cowok ganteng.” Mama terkekeh sambil merangkulku.
“ma, pa.. Dika cuma sahabatku. Dan ya begitu..” jelasku.
“Yasudah ayo masuk, baju kamu basah kuyup. Nanti mama yang cuci jaket Dika.”
“Ehh jangan ma, biar Maryam aja.. Kan Maryam yang pakai.” Cegatku
“Giliran jaket pujaan hati mah kamu yang cuci, tapi giliran baju sendiri.. Nunggu sampai 4 hari baru mau nyuci.”
“Hahaha mama mah sukanya ngeledek aku.”
❤❤❤❤
Hari yang kunanti tiba, Ujian SNMPTN telah ku lalui. Sekarang waktunya berperang menghadapi Ujian Nasional. Sekolahku memang sekolah favorit dan mempunyai segala macam.fasilitas yang sangat memadai. UNBK kali ini aku mendapat nomor kursi 24, dan Dika mendapat nomor kursi 23. 2 jam berlalu cukup mudah, Bahasa Indonesia memang bidangku. Asalkan teliti dalam mengerjakannya.
Alkhamdulillah, selesai juga. Masih sisa 3 hari lagi.
“Nun, balik bareng yuk. Aku mau cari buku TOEFL nih.. Kita mampir ke toko buku.”
“Boleh Mar, tapi bayarin aku ice cream yaa.. Btw sekalian aku mau beli buku tafsir hadist nih sama kamus bahasa arab buat bekalku di UIN.” Ujar Ainun dengan semangat.
“Siap deh CAMABA (Calon Mahasiswa Baru). Oh ya kamu masih ingat nggak sama lomba desain baju muslim?”
“hmm iya iya ingaaat…” Ainun memcoba mengingat – ingat kembali
“Aku menang Nun, tadi malam aku ditelpon sama perusahaannya dan desain bajuku akan dibuat oleh desainer ternama. Dan bakal dipamerkan di Singapura.” Ujarku
“Alkhamdulillah.. Ada untungnya juga pas itu kamu pulang pake bus umum.”


“Iya Nun, hadiahnya lumayan bisa buat nambah – nambah biaya hidup di UK.” Jelasku
Aku dan Ainun berjalan kaki menyusuri trotoar ibu kota. Cukup padat kendaraan hari ini. Besok adalah pengumuman tesku di Oxford University. Aku semakin deg – degan. Kampuan berbahasa Inggris ku terilang lumayan.
Sampai juga, aku segera membeli buku – buku penunjang belajarku untuk masuk ke Oxford University. Ainun masih berkutat dengan pilihan bukunya.
Setelah selesai belanja. Aku mengajak Ainun ke kedai Ice Cream terdekat. Ainun memilih ice cream red velvet dan vanila. Sedangkan aku vanila dan matcha. Suasana kota yang ramai cocok menjadi tontonan kita saat bersantai. Hilir mudik mobil berlalu lalang. Ruangan kedai ini ber AC sehingga sangat membuatku nyaman. Dan aku akan merindukan saat – saat seperti ini bersama Ainun.


Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon