Selasa, 26 Maret 2019

Cerita Islami - Different - Bagian 4 Tears in Surabaya

Different
(Karya : Marta Sulistia)

Cerita Islami


Bagian 4
Tears in Surabaya
Fajar telah tiba, sinarnya terasa hangat. Setelah menunaikan kewajiban dan segala keperluan untuk aku bawa ke Surabaya. Kereta berangkat jam 8.30 WIB, butuh waktu satu jam untuk menuju ke stasiun. Jalanan kota masih lengang. Pepohonan di jalan masih asik menari dengan eloknya mengikuti arah angin. Mataku masih terasa berat setelah berjam – jam menangis.
“Nak, ayo kita berangkat. Sebentar lagi taksinya sampai. Kamu bawa koper merahnya nanti mama bawa oleh – oleh untuk nenek kamu.” Ujar mama sambil memakai jaket merah hadiah anniversary pernikahan mama dan papa yang ke 19.
“Siap ibu negara!!” jawabku dengan penuh semangat.
Tak sampai seperempat jam, taksi pun tiba. Rasa sesak dalam dada masih sangat terasa. Mungkin mama juga merasakanny bahkan lebih perih dan menyakitkan dari apa yang kurasa. Aku memilih kursi di belakang, mama memilih kursi di bagian depan bersama pak supir. Bantal leher sudah stand by.
Pagi ini cukup cerah, namun hatiku tak secerah itu. Bahkan semalam berhasil diporak – porandakan oleh badai masalah. Kacau sudah, aku kira papa tidak akan memberikan sedikitpun luka pada mama maupun aku. Namun, yang aku pikirkan salah kaprah.
Satu jam berlalu, jam tanganku menunjukkan pukul 7.45 WIB. Tandanya masih ada sisa waktu untuk aku sarapan. Kali ini mama masak makanan kesukaanku, yupss omelet mozzarella.
“Makan yang kenyang, kan kita ke Surabaya butuh waktu 10 jam.” Jelas mama sambil merapikan jilbabku.
“Iya ma… memangnya mama udah sarapan?” ujarku dengan wajah polos
“Udah dong, masa belum sih. Mama nggak mau semaput di kereta cuma gara – gara nggak makan lho ya.”
“hehehe beres dong, eh ma… masakan mama terbaikkk deh!! So delicious!!” rayuku sambil memeluk mama.
Aku harap kalimat tadi bisa membuat mama bahagia walau hanya sebentar. Tetapi aku senang bisa melihat mama tersenyum walau luka itu ibarat tombak yang menghujam hatinya sampai hatinya tak berbentuk lagi.
“Kereta Argo Bromo tujuan akhir Stasiun Pasar Turi Surabaya akan segera tiba, dimohon penumpang mempersiapkan diri.” Pengeras suara berbunyi..
Mama dan aku duduk di bangku 24 A dan B, dan mendapat gerbong 3.Aku langsunh membenahi koper serta barang bawaan yang lain. AC disini cukup dingin dan berhasil membuatku kedinginan. Aku segera mengambil jaket hitamku hadiah dari mama ketika aku memenangkan lomba Speech Contest tingkat provinsi tahun lalu.
Aku sangan menikmati pemandangan, banyak pohon – pohon menari, burung – burung bernyanyi walau aku tak bisa mendengarnya.
Mama sudah terlelap tidur mungkin karena kecapekan dan banyak pikiran. Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah, berdzikirlah itu jika kau benar – benar terkubur dalam lukamu.

❤❤❤❤

Akhirnya sampai juga, setelah 10 jam duduk dalam keadaan bosan yang amat teramat. Kini aku telah menginjakka  kaki di kota pahlawan!!!
Kata mama, setelah ini kita akan naik taksi menuju rumah nenek.
Mama menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat “Jalan Dewi Sartika 124, RT 09/ RW 10. Dan pak supir pun langsung paham dengan alamat ini. Alkhamdulillah, lagi – lagi aku bersyukur Engkau telah mempermudah jalan hamba untuk menyelesaikan masalah yang rumitnya bukan main ini.
Sesampainya di rumah nenek, kita disambut dengan baik. Mama akhirnya berterus terang kepada nenek dam Engkong apa yang terjadi kepada kami serta apa yang dilakukan papa sehingga membuat mama kecewa. Nenek langsung menelpon papa agar papa cepat ke Surabaya
“Masalah harta warisan memang bunda kasih paling banyak ya untuk Ferdi, suamimu. Tetapi, mama tidak pernah sekalipun menyuruh Ferdi untuk mengatakan kepada kamu bahwa kamu harus pindah agama. Itu salah besar!!” ujar nenek sambil merajut di atas kursi goyangnya
“Tapi bun, mas Ferdi selingkuh di depan mata anakku ini, dia bersama.wanita lain yang bukan mukhrimnya. Aku sangat sakit hati, tetapi aku ini pernikahan kami tetap utuh.” Jawab mama.
“Sudah nanti, kita selesaikan bersa nanti malam. Kalian istirahat dulu saja. Kasian cucu nenek terlali capek.

Adzan maghrib berkumandang, aku dan mama bergegas melaksanakan salat maghrib. Rupanya, papa sudah datang dan membawa tante Alena adik kandung papa. Tante Alena,
merupakan tante yang paling baik. Mama selalu cerita bahwa jaman dulu, tante Alena suka membantu keluarga mama dan papa ketika masih dalam keadaan susah.

Suasana semakin menenegang ketika papa belum saja mengakui apa yang diperbuat. Om Rino telah memiliki bukti – bukti perselingkuhan papa, namun mama selalu memohon agar tidak terjadinya perceraian. Mama selalu ingin seperti Khadijah istri Rasulullah yang selalu patuh pada suaminya.

“Sekarang mau bagaimana Mas? Aku tidak ingin rumah tangga kita berantakan.” Ujar mama sambil menitikkan air matanya
“Maafkan aku, Annisa. Aku khilaf, aku mengakui segalanya. Ya aku selingkuh dengan wanita lain, aku juga mengada – ada tentang hal pindah agamamu itu. Semua itu aku lakukan untuk bisnisku. Omset bisnisku sedang merosot dan hampir saja bangkrut.” Jelas papa sambil memgang tangan mama.
Aku hanya menyimak semuanya, aku duduk di samping nenek. Nenek pun ikut menambahi pembicaraan itu.
“Jadi semua itu hanya pura – pura demi bisnismu itu! Kenapa kamu tidak terus terang saja pada ibu? Kalau kami terus terang ibu akan membantumu!” ujar nenek dengan nada tinggi.
“Saya berjanji bu saya tidak akan mengulangi lagi, aku berjanji sayang aku tidak akan mengulangi lagi. Aku akan belajar menjadi suami yang baik, yang bisa bertanggung jawab kepada keluarga seperti apa yang diceritakan Maryam tentang Rasulullah. Aku akan bertaubat.” Jelas papa sambil menangis.
Alkhamdulillah Ya Allah. Engkau benar – benar Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Setelah semua masalah itu selesai, perlahan papa mulai mengubah siklus hidupnya. Papa mau mengerjakan salat lima waktu dengan bantuan mama. Papa sudah mau bersyukur dengan apa yang kita punya. Dan nenek tetap saja menjadi pihak netral dan masih memeluk agama konghucu.

                                                                                                                                                                                                                                                                                   




Malam ini, kita bertiga berpamitan pada nenek untuk kembali pulang ke Jakarta. Karena, sebentar lagi akan ada Ujian Nasional. Jadi, aku harus belajar dan mengikuti jam tambahan di sekolah.
“Nek kami pulang dulu ya. Kan Maryam mau ada ujian. Nanti, kalo ujiannya sudah selesai Maryam bisa liburan di Surabaya.” Ujarku sambil mencium tangan nenek.
Karena Engkong sedang sakit, dan hanya terbaring di tempat tidur. Untung saja ada tante Alena yang merawatnya. Memang dari dulu papa.sudah banting tulang untuk menghidupi kakak dan adiknya.
“Iya sayang, cucu nenek yang satu ini harus jadi orang sukses. Harus bisa dapat beasiswa ke luar negeri.” Jawab nenek dengan senyum harunya.
“Doakan saja yang terbaik nek, ya sudah nek papa dan mama sudah menunggu di mobil. Maryam pulang dulu nek….” Aku mencium pipi nenek.
“Hati – hati sayang.”

Nenek adalah orang yang sangat baik. Mau menerima perbedaan walau pada awalnya hatinya masih keras untuk menerima semua itu. Tapi seiring berjalannya waktu, ibarat batu di lautan jika terkena ombak lama – kelamaan akan terkikis juga. Karena, mama juga adalah menantu yang baik. Nenek juga akhirnya sayang pada mama.
Perbedaan di keluarga ini memang benar – benar signifikan. Namun, semuanya bisa menjadi satu. Tante Netris, dia orang batak istri dari om  Rino
Rino nasibnya pun hampir sama dengan mama, awalnya beliau tidak disukai namun pada akhirnya bisa bersatu juga.

Surabaya, kau berhasil membuat air mataku keluar dengan deras. Mengukir sejarah dalam hidupku, menegaskan kembali bahwa berbeda bukanlah kekurangan ataupun keburukan. Perbedaan itu indah.

Setiap hari natal semua keluarga kumpul untuk merayakannya. Tetapi, aku dan mama hanya hadir saja, cici Gabrielle, cici Natalie, cici Novaline, koko (sebutan kakak laki – laki) Anes, koko Septian, koko Yudha, Samuel, dan Vallerie semuanya berkumpul dan saling tukar kado. Aku pun dapat jatah kado natal. Jika hari imlek tiba, semuanya pun kumpul dan akan ada acara panen angpao!! Sangat seru.. Tak kalah serunya saat Idul Fitri dan Idul Adha.


Semua keluarga yang ada di Surabaya akan mengunjungi rumahku. Keluarga dari mama pun akan hadir di sana. Jika malam takbiran tiba akan ada pesta kembang api.

Aku sangat beruntung hidup di keluarga yang seperti ini, mereka sangat bertoleransi. Mereka sangat peduli dengan sesama.
Tiba- tiba ponselku berdering, gernyata ada panggilan masuk dari Ainun. Timben nih anak nelpon aku. Apa ada tugas penting ya?
“Hallo Assalamu’alaikum Nun?”
“Wa’alaikumsalam Maryam..”
“Ada apa Nun, tumben banget kamu telpon aku? Ada tugas ya?” ujarku.
“Ini Mar, Cuma mau ngabarin aja besok sudah mulai jam tambahan. Kamu kan ambil biologi buat peminatannya. Nah, kamu dapat kelas biologi 4, dan good news nya kamu sekelasa sama aku, Rahman, sama si tuyul Dika. Hahaha..” jelas Ainun sambil tertawa.
“Serius kamu Nun, hahah yang bagi kelas peka bener deh. Bisa nyatuin kita dalam satu kelas.” Aku terbahak – bahak, jujur ini kabar baik banget bagiku.
“Ya sudah Mar, ini sudah jam 9 aku ngantuk. Sampai jumpa besok pagi, Assalamu’alaikum.”
Thanks infonya. Wa’alaikumsalam Nun, semoga mimpi indah ya.”

❤❤❤❤

Bel masuk pun berbunyi, jam tambahan memang dimulai pagi hari, hiruk pikuk keadaan di sini membuatku jenuh. Jam tambahan hari ini diisi dengan mata pelajaran matematika. Ah, membosankan…
“Eh Mar, kamu tau nggak?” tanya Ainun sambil memainkan pulpennya.
“Emang ada apa Nun? Cerita dooong” rayuku sambil memasang raut memelas.
“Dika udah berubah lho.. Kemarin, kamu kan nggak masuk tuh. Dia kan nganterin surat ke aekretaris tuh.. Terus teman –teman mengira kamu sama Dika jadian. Tapi, dia menepis itu semua. Bahwa semuanya tidak lebih dari sekedar sahabat. Terus khir – akhir  entah kenapa dia jadi pendiam banget tau Mar. Dia juga udah mau pergi ke musholah buat ngelaksanakan salat. Emang sih aku sama Rahman selalu ngingetin pas kamu nggak masuk.” Cerocos Ainun dengan serius.
Tiba – tiba pak Surya menegur.
“Mbak, kamu! Iya kamu jangan mengobrol terus!” ujarnya.
“Maaf pak..” sahut Ainun
“coba kamu ulangi apa yang tadi saya jelaskan!”
“Nilai modus dapat dicari dengan cara…..” Ainun mulai menjelaskan.. Aku, Rahman, dan Dika terkekeh kecil. Untung aja kamu pandai eksak Nun, kalo nggak bisa skak matt.

❤❤❤❤

Jam pertama dimulai setelah jam tambahan, jam pertama dimulai dengan mata pelajaran olahraga. Dan sub bab nya adalah “B A S K E T” yapss my favorite lesson. Pak Wayan membagi kelompok untuk diadu. Kebetulan aku dan Dika satu kelompok, dan kita akan bertarung melawan kelompok Ainun.
“Ya, kalian bisa pilih leadernya. Masing – masing leader bisa mengondisikan teamnya. Pertandingan akan dimulai 15 menit lagi. Kalian bisa memanfaatkan waktu untuk latihan. Bapak tinggal dulu sebentar karena sudah ditunggu tamu.” Jelas pak Wayan.
“Siap pak!!” teman – teman menjawab serentak.

“Mar, kamu nanti jadi center ya.. Aku jadi guard shoot. Nanti yang lain ngikut aja fleksibel.” Dika mencoba menjelaskan.
“Siap!!” ujarku
“Yukk latihan.dulu.. Keburu time off.”
Setelah menunggu waktu main. Akhirnya pak.Wayan datang juga. Pertandingan segera dimulai. Pertandingan ini bertujuan untuk.mengambil nilai ujian praktek.
“2 – 1” ujar pak Wayan

“Mar! Pass ke Ujang bolanya” teriak Dika.
“Iya Dik,” aku pun mengoper bolanya ke Ujang.
Ainun rupanya mulai kelelahan. Kerudungnya basah karena keringat, dan memang walaupun mendung. Tetapi, olahraga ini melelahkan juga.
Pertandingan berakhir dengan point 15 – 10 dan pemenangnya adalah Tim Dika!!! Yeyyy.. Kali ini pak Wayan memberi hadiah makan soto gratis di kantin. Untuk yang kalah maupun yang menang. Pak Wayan adalah orang Bali, baik hati, dan merupakan guru favorit.kelasku.

❤❤❤❤

Tak terasa, waktu cepat berlalu. Dua hari lagi akan ada ujian SNMPTN. Universitas yang aku pilih adalah Universitas Indonesia, dengan jurusan Farmasi. Dan Dika memilih Institut Teknologi Bandung. Hubungan aku dan dika terasa semakin jauh setelah kita fokus untuk masa depan kita.
Ainun memilih UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta mengambil.Kimia Murni. Rahman mengambil Universitas seni ternama di Jakarta dan dia mengambil fotografi. Semuanya berlalu begitu cepat seperti kedipan mata.
Pulang sekolah ini Dika mengajakku untuk mengantarnya ke toko Gitar, di pusat kota.
“Mar, lo mau nggak anterin gue buat beli gitar di Slazh Guitar's?” tanya Dika
“Hmm gimana ya?” aku berpura – pura bingung. Padahal mah aku mau banget, toh perasaan aku nggak bakal berubah Dik.
“Ayo dong, kamu juga kam bisa main gitar. Nanti pulangnya makan deh di Mc. D” Dia mencoba merayu.
“Boleh boleh, tapi beneranakan yaa😂
“Giliran makan aja semangat! Haha doyan makan tapi nggak gendut gendut badanmu itu, Cuma pipi yang makin bengkak” ledek Dika sambil menjulurkan lidahnya.
“Yey, nggak papa dong. Kamu mah sirik aja sih” ujarku sambil menjulurkan lidah juga.
“Yaudah jangan pulang dulu. Nanti bareng aku aja, hari ini aku bawa mobil.”
“Siap Mahardika!!!”
Tiba – tiba si Ainun muncul sambil ketawa – ketawa nggak jelas. Kadang dia suka keluar gaje nya.
“Maaarr, gue seneng bangett. Lo tau ngga? Ada kabar baik. Ada program beasiswa ke UK dan Korea. Tadi gue habis dipanggil bu Tari buat nginfoin ini ke temen – temen.”Ujarnya sambil tertawa bahagia.
“Oh ya? Aku minat banget nih buat ke UK. Apalagi di Oxford. Jurusannya nggak jauh – jauh dari life sciences and medicine.”
“Ayo nanti kita konsul sama bu Tari saja pulang sekolah.” Ajakn Ainun
“Hah pulsek? Haduhh Nun nggak bisa besok aja? Pulang ini aku mau anter Dika beli gitar nih.”
“Ya sudan nanti aku kabarin kamu deh.”


❤❤❤❤

Bel pulang berbunyi nyaring, kebahagiaan yang dinanti para siswa. Dika rupanya sedang mengambil mobilnya di parkiran. Ainun sudah pulang duluan menggunakan jasa pak Made. Rahman, akhir – akhir ini jarang mengobrol. Mungkin, karena sibuk mengurus persyaratan daftar kuliah.
“Mar ayo cepat sini, nanti keburu jalanan Jakarta macet.” Ujar dika dari balik jendela mobil
“Iya Dik sorry aku ngelamun tadi.”
Kali ini senja tidak muncul, sinarnya terlahap habis oleh mendung. Gumpalan awan hitam itu semakin menebal. Aku harap akan turun hujan. Dika masih menikmati perjalanan, aku pun demikian.
Macet menjebak kita, di jalanan. Jam menunjukka  pukul 17.45 WIB. Sebentar lagi akan berkumandang adzan maghrib. Dika meminta kepadaku untuk rest di masjid terdekat untuk salat terlebih dahulu.
“Mar, kita berhenti dulu ya.. Kan sebentar lagi adzan.” Ujarnya sambil tersenyum manis
“Iya Dik, aku juga mau bilang gitu. Eh, udah keduluan kamu yang bilang.” Aku tertawa kecil.
Alkhamdulillah, lagi – lagi aku sangat bersyukur ketika Dika sudah mulai berubah. Semoga Engkau mengistiqomahkan hatinya. Hujan tak lama pun turun. Allahumma Soyibban Naafiaan, ucapku dalam hati. Semoga Engkau turunkan hujan sebagai berkah.
Adzan maghrib berkumandang, sesegera mungkin aku mengambil air wudhuh begitu pun dengan Dika. Setelah 3 rakaat telah dijalani. Aku dan Dika kembali menuju toko Gitar itu. Hujan memang deras, untung saja tidak ada petir.
“Aku dengar kamu mau lanjut study ke luar negeri Mar?” tiba – tiba suara beratnya memecah keheningan.


“Insyaallah Dik, kalo diijinin sama mama papa.” Ujarku
“Kalo begitu harapanki hilang dong.” Ucap Dika sambil melirik ke arahku.
Aku masih bingung dengan apa yang Dika ucapkan itu.
“Maksud kamu?” aku bertanya dengan polosnya.
“Ah.. Sudah abaikan saja Mar. Bentar lagi sampai, nih kamu pakai jaketku. Masih hujan soalnya” Dika menyodorkan jaket jeansnya.
“Terimakasih, tapi kamu nanti kehujanan?”
“Cowok mah STROONG!!” Ujarnya sambil tertawa.
“Halah kamu mah so strong!” timpalku sambil tertawa juga.
Jaket, hangaatt. Aku senang bisa sedekat ini dengan Dika. Namun, ucapannya masih membuatku penasaran. Gitar disini bagus – bagus. Rupanya Dika memilih gitar berwarna biru dongker.. Ya memang dia pecinta warna biru. Mulai dari case hp, cat rumah, topi, dan yang lainnya.
Tiba – tiba dia menyenggol bahuku.
“Aduhh..” rintihku, padahal mah Cuma kaget.
“Bagus nggak gitarnya? Keren kan kaya yang punya” ujar Dika sambil menatap mataku.
“Ih, keren juga gitarnya daripada yang punya.”
Setelah membayar di kasir. Aku dan Dika melanjutkan perjalana  ke salah satu restoran cepat saji yang namanya sudah melambung. Kali ini aku dan Dika menuju ke mall Kota Casablanca.
“Nah, sudah sampai. Ayo turun, hujannya sudah reda. Pasti cacing – cacing yang ada di perutmu itu sudah nggak tahan.” Ucapnya sambil mengambil tas ranselnya yang ada di jok belakang.
“Iya kamu mah peka banget ya..” aku sedikit menggodanya untuk segera masuk.
“Ayo, kamu turun duluan nanti aku nyusul.” Pintanya.
Aku pun turun, Dika sedang memarkirkan mobilnya. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya aku dan Dika menuju restoran itu. Dika memesan dua buah burger jumbo dan soda serta nasi ayam. Tak lupa dia juga membeli ice cream.
“Masya Allah sebanyak ini makanannya?” aku terkejut dan sempat menahan napas.
“Ya, kita habiskan.. Oh ya, nanti pulang ini kita mampir ke toko donat ya.”
“Oke deh aku mah siap aja, lagian kamu pesen makanan sebanyak ini emangnya buat arisan apa ya..” aku tertawa
“Udah pokoknya kamu habisin semuanya.”
“Kamu pimpin doanya ya.” Pintaku.
“Oke”
 Bismillahir rahmaanir rahiim, Allahumma bariklana fimaa razaktanaa wakinaa adzabanaar. Aamiin”
Setelah makan dan puas bercanda serta menemani Dika belanja. Aku pun diantar pulang. Jaket Dika masih aku pakai,
“Jaket itu di kamu dulu aja. Nanti kembaliinnya besok atau lusa.” Ujarnya
“Yasudah lagian juga mau aku cuci dulu kan basah.”
“Oke, aku pulang dulu ya udah malam, angin pantai dingin juga ya.. Assalamu’alaikum Maryam.” Ucapnya sambil melambaikan tangan
“Wa’alaikumsalam Dika, hati – hati jangan ngebut.”
Tiba – tiba dari belakang papa dan mama mengagetkanku.
“Ciee habis diantar calon mantu papa nih.” Goda papa sambil mengusap kepalaku yang dibalut jilbab basah


“Nggak kerasa pa, anak kita udah gede. Udab tau yang namanya cowok ganteng.” Mama terkekeh sambil merangkulku.
“ma, pa.. Dika cuma sahabatku. Dan ya begitu..” jelasku.
“Yasudah ayo masuk, baju kamu basah kuyup. Nanti mama yang cuci jaket Dika.”
“Ehh jangan ma, biar Maryam aja.. Kan Maryam yang pakai.” Cegatku
“Giliran jaket pujaan hati mah kamu yang cuci, tapi giliran baju sendiri.. Nunggu sampai 4 hari baru mau nyuci.”
“Hahaha mama mah sukanya ngeledek aku.”
❤❤❤❤
Hari yang kunanti tiba, Ujian SNMPTN telah ku lalui. Sekarang waktunya berperang menghadapi Ujian Nasional. Sekolahku memang sekolah favorit dan mempunyai segala macam.fasilitas yang sangat memadai. UNBK kali ini aku mendapat nomor kursi 24, dan Dika mendapat nomor kursi 23. 2 jam berlalu cukup mudah, Bahasa Indonesia memang bidangku. Asalkan teliti dalam mengerjakannya.
Alkhamdulillah, selesai juga. Masih sisa 3 hari lagi.
“Nun, balik bareng yuk. Aku mau cari buku TOEFL nih.. Kita mampir ke toko buku.”
“Boleh Mar, tapi bayarin aku ice cream yaa.. Btw sekalian aku mau beli buku tafsir hadist nih sama kamus bahasa arab buat bekalku di UIN.” Ujar Ainun dengan semangat.
“Siap deh CAMABA (Calon Mahasiswa Baru). Oh ya kamu masih ingat nggak sama lomba desain baju muslim?”
“hmm iya iya ingaaat…” Ainun memcoba mengingat – ingat kembali
“Aku menang Nun, tadi malam aku ditelpon sama perusahaannya dan desain bajuku akan dibuat oleh desainer ternama. Dan bakal dipamerkan di Singapura.” Ujarku
“Alkhamdulillah.. Ada untungnya juga pas itu kamu pulang pake bus umum.”


“Iya Nun, hadiahnya lumayan bisa buat nambah – nambah biaya hidup di UK.” Jelasku
Aku dan Ainun berjalan kaki menyusuri trotoar ibu kota. Cukup padat kendaraan hari ini. Besok adalah pengumuman tesku di Oxford University. Aku semakin deg – degan. Kampuan berbahasa Inggris ku terilang lumayan.
Sampai juga, aku segera membeli buku – buku penunjang belajarku untuk masuk ke Oxford University. Ainun masih berkutat dengan pilihan bukunya.
Setelah selesai belanja. Aku mengajak Ainun ke kedai Ice Cream terdekat. Ainun memilih ice cream red velvet dan vanila. Sedangkan aku vanila dan matcha. Suasana kota yang ramai cocok menjadi tontonan kita saat bersantai. Hilir mudik mobil berlalu lalang. Ruangan kedai ini ber AC sehingga sangat membuatku nyaman. Dan aku akan merindukan saat – saat seperti ini bersama Ainun.


Senin, 25 Maret 2019

Cerita Islami - Different - Bagian 3 Crack

Different
(Karya : Marta Sulistia)

Cerita Islami



Bagian 3 


Crack
Selamat pagi embun yang masih setia menemani rumput, selamat pagi perasaan yang sukar untuk ku tepis kebenarannya.
Hari ini aku mendapat bagian jemputan ke dua setelah Rahman. Aku sudah bersiap dengam seragam dan tas ranselku. Papa dan mama rupanya akan pulang besok pagi, dan aku harus tinggal sendirian lagi.
Setelah sarapan roti dan segelas susu, aku berangkat menuju jalan utama. Deru angin pantai pagi hari sangat sejuk, mentari pagi mulai mengeluarkan sinar jingganya, dan terpantul ke air laut. Masya Allah…
Sudah empat hari Dika nggak masuk sekolah, mungkin hari ini dia bakal masuk. Empat hari sudah aku menyelesaikan tugasku untuk mengajarkan materi ke Dika, kasian juga kalau dia sampai ketinggalan pelajaran.
“Neng sudah siap berangkat?” tanya kak Hani padaku dengan nada bersemangat.
“Sudah dong kak, kakak semangat amat nih? Lagi jatuh cinta yaa?” guyonku sambil menggoda kak Hani.
“Heh ini bocah tahu aja ya, kalo orang tua lagi kesemsem.” Ujar kak Hani sambil terkekeh.
“Tahu dong! Kakak aja ketawa melulu kok dari tadi. Awas kak jangan ketawa – ketawa terus nanti dikira kurang 1 ons lagi” aku tertawa terbahak – bahak.
Pak Made pun ikut tertawa. Di dalam bus sudah ada Rahman, kali ini dia tidak pakai mobil sportnya. Dia sedang asik dengan earphonenya, makanya dari tadi dia tidak menghiraukan apa yang kita bicarakan. Aku memilih tempat duduk di tempat biasa ketiga dari belakang dan duduk di dekat jendela bus. Oh ya, hari ini pengiriman hasil desain busana muslimku ke e – mail perusahaan Moslem butik. Pemenang lomba akan mendapatkan uang tunai senilai Rp 17.500.000,- dan hasil desainnya akan dibuat dan akan dipamerkan di ajang fashion di Singapura.
Tiba – tiba suara Rahman memecah keheningan.

“Dika hari ini berangkat sekolah.” Ucapnya singkat.
Aku semakin bingung dengan sikap Rahman, kadang dia seasik yang lain kadang dia bisa sedingin es batu.
“Alkhamdulillah dia sudah sehat.” Jawabku singkat pula.
Lalu Rahman memasang kembali earphonenya dan bersenandung kecil. Daripada aku ngelamun nggak jelas lebih baik aku berdzikir.

Mentari semakin meninggi, bus sekolah semakin ramai. “ sebentar lagi kita sampai, penumpang dimohon bersiap – siap” ujar kak Hani menggunakan pengeras suara. Aku pun langsung bersiap – siap dan memasukan tasbih kecilku ke dalam tas.
Alkhamdulillah, akhirnya sampai dengan selamat berkat perlindungan dari Sang Illahi. Ketika aku memasuki gerbang Shasha sudah berdiri di sana, apa dia akan memakiku lagi? Apa dia akan membuatku malu. Aahh jangan suudzon dulu dong Mar kita harus huznudzon.
Tiba – tiba Shasha mengulurkan tangan lentiknya, rambutnya yang lurus tergerai indah. Namun, akan lebih indah lagi jika dia memakai hijab seperti aku dan Ainun.
“Mar, aku minta maaf sudah berburuk sangka ke kamu. Aku tau Dika hanya pantas untukmu ajarkan dia ke jalan yang lebih baik. Aku hanya bisa berpesan padamu, besok pagi aku suda tidak bersekolah di sini. Aku akan ikut papa ke Belanda.” Ucapannya sangat lembut, genangan air matanya tak bisa ia bendung lagi.
“subhanallah Shaa, sudah aku maafkan semuanya. Insya Allah aku akan merubah sikap dan perilaku Dika menjadi lebih baik lagi. Insya Allah Sha.” Jawabku sambil mengelus pundaknya.
“Maafin aku ya Mar,” Shasha memelukku dan kembali ke kelasnya.
Rabb mu tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan hambaNya.  Aku melanjutkan langkahku ke kelas XIIA1, di sana Ainun sedang asik berkutat dengan matematika. Ainun, adalah sososk sahabat yang baik, ia selalu memberi masukan serta saran

positif terhadapku, ia selalu ada buatku dan aku bangga padanya ia selalu istiqomah berhijab walau ibu dan bapaknya tak menyukainya.
“Hai cewek!! Pagi – pagi sudah sibuk sama matematika nih.”
“Iyaa nih Mar, aku masih bingung gimana ya cara memecahkan masalah di soal nomor 15 ini.” Keluhnya sambil menggerak – gerakkan pensilnya.
“Hmm sini coba ku lihat, oh soal ini… sebentar aku ambil bukuku dulu. Coba kamu turunkan dulu cos (3x – 5) lalu kamu sederhanakan dengan rumus u'v – uv' nanti ketemu kok jawabannya.” Ujarku sambil mengajari Ainun
“Sebentar aku hitung dulu.. Oh iyaa ketemu. Syukron Maryam!!” dia memelukku hangat.

❤❤❤❤

Bel masuk berbunyi nyaring, tiba – tiba Dika datang lukanya sudah memudar namun dia asih berpenampilan sama denga seragam dikeluarkan dan gaya rambut yang acak – acakan. Aku harus bisa mengubahnya pelan – pelan. Dika tersenyum padaku, aku pun membalas senyumannya. Mungkin senyuman tadi tanda terimakasihnya atas bantuanku mengajarkan matematika yang serumit ini.
Enam jam pelajaran sudah terlahap habis oleh waktu. Adzan Dzuhur berkumandang, waktunya menunaikan kewajiban. Seluruh teman – teman kelas menuju ke musholah untuk menunaikan salat Dzuhur, aku mencoba mengajak Dika untuk ke musholah.
“Dik ayo salat dulu, nanti habis salat kan bisa ke kantin bareng sama yang lain.” Ujarku sambil mengambil mukenah dalam tasku.
“Hmm boleh, nanti aku nyusul sama Rahman. Kalian duluan aja.” Jawabnya singkat.
“Ya sudah aku duluan ya, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”


Akhirnya aku bisa melihat perubahan pada diri Dika, walau hanya seujung kuku. Namun, aku tetap mengapresiasinya. Hari ini, Dika ingin belajar mengaji dengan bantuan Rahman soulmate nya dan Ainun. Ainun pernah menjuarai lomba tartil tingkat provinsi. I proud of you Nun!
“Gue tunggu kalian di rumah gue ya pulang sekolah!” ujar Dika sambil memasukkan buku – bukunya. Rupanya hari ini dia tidak latihan basket.
Aku dan Ainun segera memasuki bus. Namun, ponselku berdering dan ternyata papa telepon.
“Assalamu’alaikum nak? Hari ini papa pulang cepat dan papa bawa oleh – oleh dari tante kamu nih. Ada kue bulan kesukaan kamu. Jadi papa ingin kamu pulang cepat.”
“Wa’alaikumsalam pa. Iya ini Maryam lagi naik bus sekolah, papa tunggu di rumah saja ya.”
Papa langsung memutuskan teleponnya. Perjalanan berlangsung selama 30 menit, aku menjelaskan pada Ainun bahwa hari ini aku tidak bisa ikut untuk mengajari Dika mengaji. Ainun pun memakluminya.
Sesampainya di rumah, aku mendengar suara kegaduhan di daerah ruang tamu.
“Kalau kamu lebih mementingkan harta warisan lebih baik kamu pergi saja. Agama itu bukan untuk taruhan pa! Aku lebih sayang Maryam daripada harus pindah agama demi harta warisan dari ibumu!” ucap mama sambil menangis.
“Terserah kamu dalam waktu 1 bulan kamu tidak memberi keputusan lebih baik kita pisah!” papa menghardik.
Aku hanya terdiam, serasa ada seribu tombak menghujam hatiku. Papa yang selama ini aku kenal seorang yang bijaksana ternyata tega mempertaruhkan agama Islam demi sebuah uang. Bahkan, nabi Ayub yang diberi cobaan yang bertubi – tubi pun tetap sabar dan tetap berusaha sekaligus berdoa kepada Allah azza wa Jalla. Tetapi, papa… Ya Allah berikan hambaMu ini kekuatan untuk menghadapi segala macam cobaanMu, berikan hambaMu ini ketabahan serta jalan keluar, hamba tahu bahwa engkau memberikan cobaan tidak melebihi


kemampuan hambaMu. Dan hamba mohon, berikanlah hidayah untuk papa agar papa tahu mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah.
Mataku terasa panas, aku tak bisa menahan tangis. Aku berdiri di samping rumah, debur ombak menjadi saksi kepiluan hatiku ketika semuanya berada di ujung tanduk. Papa pergi dengan mobilnya entah kemana. Aku langsung masuk dan memeluk mama.
“Ma, yang sabar semuanya akan berakhir indah. Allah sayang kita ma!” aku mencoba meyakinkan mama, isak tangis pun tak bisa tertahan mama hanya menangis dalam pelukanku.Malam ini aku putuskan untuk tidur bersama mama, mama sedang kalut dalam kesedihannya. Islam agama istimewa, islam agama penyempurna dari seluruh agama. Agama yang lain pun sama mengajarkan hal – hal baik kepada kita semua. Namun, yang jadi penghambat dari semuanya adalah manusia. Sikap serakah dan tak mau kalah tidak bisa ditepis dari semua itu. Aku beruntung bisa menjadi seorang muslimah, yang dididik mama sesuai dengan aturan – aturan islam.

❤❤❤❤

Islam berkembang di Indonesia sangat pesat, bahkan sekarang indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk yang beragama Islam tertinggi di dunia. Dan, inilah risiko yang harus diterima olehku ketika aku hidup di tengah – tengah keberagaman agama. Aku sempat diminta untuk melepas hijabku saat acara pernikahan cici (sebutan kakak perempuan dalam budaya Cina) Gabrielle. Namun, pada saat itu mama terus membelaku. Aku pun demikian, selalu menolak jika hijab yang aku pakai dipaksa untuk dilepas.
Kini, masalah yang aku lalui sangat rumit. Aku tidak boleh diam saja seperti ini, agama bukanlah mainan! Pikirku. Akhirnya aku memutuskan untuk ijin sekolah esok hari. Karena, semua masalah ini perlu jalan keluarnya.
Mama masih merapikan baju yang harus dibawa untuk besok pagi. Karena, kita akan ke rumah nenek dan Engkong ( sebutan kakek dalam budaya Cina). Aku memesan dua tiket kereta api bisnis untuk ke Surabaya.

“Bersabarlah nak, semua akan ada jalan keluarnya. Berikhtiarlah lalu bertawakal, jangan mudah menyerah. Allah memberikan semua ini karena Allah sayang sama kita. Mama tidak pernah menyesali pernikahan dengan papamu.” Pandangan mama kosong menerawang jauh ke masa lalu ketika keluarga kita benar benar berada di bawah. Lalu, kita dikucilkan oleh keluarga papa, sampai akhirnya papa berusaha mencari mata pencaharian yang layak demi menghidupi Maryam kecil. Ya, waktu itu aku berusia 3 bulan dan disaat itulah ekonomi keluargaku benar – berada di dasar. Sampai – sampai mama pun buka usaha catering makanan.
Semuanya mulai membaik ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun, semuanya tidak bertahan lama. Larisnya catering mamaku rupanya membuat teman mama iri hati. Mama jatuh sakit tiba – tiba dan semuanya semakin memburuk ketika mama didiagnosis terkena kanker paru – paru. Namun, beberapa kali pengobatan yang dijalani mama tidak membuahkan hasil.
Akhirnya, keluarga memutuskan membawa mama ke pak Ustad untuk meminta tolong agar mama dirukiah. Dan benar saja, bahwa penyakit hati itu lah yang menyebabkan mama terkena gangguan dari makhluk halus.
Tapi semuanya hanya masa lalu, ya masa lalu yang begitu pahit
“Ma, aku mau ke swalayan dulu ya, mau bayar tiket dulu.” Ujarku sambil memakai sweater karena malam ini terasa sangat dingin, dinginnya hingga menusuk ke tulang.
“Ya nak, hati – hati. Nanti pulangnya kamu mampir ke mbok Yati ya, mama mau menitipkan ini untuknya” mama menyodorkan selembar uang lima puluh ribu rupiah. Mungkin upah mbok Yati membantu mama saat ada pesanan tumpeng.
Aku berjalan menyusuri trotoar seorang diri, dan tiba – tiba mobil Honda Jazz berwarna putih menghampiriku. Siapa sih, kenapa tuh orang masih aja di situ? Perlahan pintu mobil pun terbuka. Dan seorang pria jangkung, datang. Postur tubuhnya nggak asing bagiku, sweater abu – abu membalut kulitnya. Ah, Dika! Kok bisa ya sampe sini?.
“Eh Mar, kok lo malam – malam gini pergi sih. Mana buru – buru banget jalannya. Emang mau kemana?” ujarnya sambil menggosok – gosokkan kedua telapak tangannya.


“Aku mau ke swalayan aja sih, mau bayar uang tiket buat besok pergi. Oh ya mumpung ada kamu nih Dik, aku sekalian mau nitip surat ijin.” Aku meyodorkan amplop putih yang berisi surat ijin.
“Oke Mar, gue bakal sampaikan ini ke bu Ajeng. Lo mau ke swalayan kan? Bareng aja sama gue pake mobil. Daripada lo jalan kaki habis itu naik becak, kan lama. Sekalian gue beli titipan nyokap.”
“Hmm yakin Dik? Tapi jangan macam – macam lho!” aku mencoba mengancam dia dengan tatapan sinis.
“Nggak bakalan dong Mar,” Mahardika tersenyum manis padaku.
Jalanan kota cukup lengang, aku mencoba menyalakan radio di mobil Dika. Dan pas banget nih, lagu yang diputar sekarang lagu favorit aku “Yaa Maulana Yaa Maulana”. Sambil mendengarkan lagu, aku juga menikmati pemandangan Jakarta pada malam hari, café yang dihiasi gemerlap lampu dan dipenuhi oleh para pasangan muda. Lampu merah lun beraksi, mobil berhenti suasana masih dingin antara aku dan Dika.Namun, mataku terpaku pada salah satu pasangan yang sepertinya aku kenal sosok lelaki itu. Dan itu papa!
“Dik, please kamu bisa menepi sekarang nggak? Itu papa aku dik!”
“Iya gue parkir di area parkir café, kok bokap lo sama cewek sih Mar?” tanya dika dengan tangan yang masih menempel pada kemudi mobil.
“Iya Dik itu papa! Aku harus turun!. Papa pegang – pegang tangan cewek itu.”
“Sabar Mar, lo tenangin diri lo!” Dika berusaha meredam emosiku.
Aku langsung bergegas menuju papa dan wanita penggoda itu. Rasa sesak menyelimuti hati. Teriris sudah hatiku ini, kristal bening di sudut mataku perlahan mulai turun.
“Maksud papa apa? Kok papa tega pegang – pegang cewek selain mukhrim papa? Papa tega pa, papa nyakitin hati mama. Tercabik – cabik pa perasaan mama kalo mama lihat ini.”


“Kamu jangan salah paham dulu nak, ini cuma klien papa.” Jelas papa namun dengan ekspresi gugup.
“Ingat pa, Allah selalu memantau papa.. Maafkan Maryam jika Maryam memang lancang sok menasehati papa. Tapi jika papa mencintai mama, pulanglah. Dan selesaikan masalah ini dengan tuntas. Besok kita akan ke Surabaya, dan aku akan mengadukan semua perbuatan papa ke nenek dan engkong. Dan anda, wanita yang kurang kerjaan. Lebih baik tinggalkan papa saya! Dan jangan pernah kembali untuk menghancurkan keluarga aku!”. Aku benar – benar emosi.
Namun, akhirnya papa memutuskan pergi meninggalkan aku dan Dika. Perempuan itu pergi dengan taxi. Dan papa pergi menggunakan mobil kantornya, pikiranki kacau sangat kacau bak diterpa badai. Dika hanya bisa menepuk pundakku untuk menenangkanku. Aku masih kalut dalam kesedihan. Aku nggak nyangka ternyata papa yang selama ini aku kagumi, aku hormati, dan aku cintai ternyata mengukir kembali luka dalam hati.
Aku mengakhiri semua ini dengan memutuskan untuk pulang setelah membayar tiket kereta.
“Udah, sabar saja Mar. Gue pernah ngerasa di posisi sulit kaya yang lo hadapi ini. Cuma, gue lebih high levelnya.” Dika berusaha menghiburku.
Aku hanya terdiam, dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipiku. Tiba – tiba Dika memberikan sapu tangan miliknya.
“Jangan nangis lagi, hidup itu nggak selamanya bahagia. Hidup itu punya siklus Mar, bisa dimulai dari susah dulu lalu lo bisa bahagia atau sebaliknya.”
“Iya Dik, tapi ini terlalu sakit. Dan aku nggak berpikir sejauh ini.” Jelasku sambil mengusap air mata.
“Ya sudah, sekarang udah malam. Kamu masuk aja biar bisa prepare barang – barang yang mau lo bawa ke Surabaya.”
“Terimakasih banyak Dik, kamu memang sahabat aku yang baik. Semoga Allah membalas kebaikan kamu. Assalamu’alaikum Dik, hati – hati di jalan.”
“Wa'alaikumsalam,”
Arloji di tanganku menunjukan pukul 22.08 WIB. Aku langsung menuju kamar untuk terlelap sejenak bersama bintang.
Aku dan mama langsung menaiki taksi itu. Rasa sesak dalam dada masih teras